
PEKANBARU – Nilai impor Provinsi Riau selama periode Januari–Agustus 2025 tercatat sebesar US$1.104,07 juta, atau mengalami penurunan signifikan sebesar 17,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren penurunan ini juga konsisten terjadi pada impor nonmigas yang turun 13,44 persen menjadi US$1.026,19 juta.
Pada Agustus 2025, penurunan impor bahkan lebih dalam. Nilai impor bulanan anjlok 36,08 persen menjadi US$123,40 juta, dengan impor nonmigas turun 36,51 persen.
"Penurunan impor yang cukup tajam ini terlihat di hampir semua jenis barang. Impor barang modal dan barang konsumsi turun lebih dari 60 persen," jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi dikutip dari rilis resmi BPS, Jumat (1/10/2025).
Dari sisi komoditas, penurunan impor terbesar terjadi pada mesin-mesin dan pesawat mekanik, yang nilainya merosot US$131,67 juta atau 55,91 persen. Komoditas lain seperti gandum dan kayu juga turun signifikan.
Di sisi lain, impor bubur kayu (pulp) justru meningkat 43,16 persen menjadi US$37,28 juta, menunjukkan kebutuhan industri hilir yang masih bertahan.
Untuk negara asal, Kanada menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$187,53 juta, disusul Tiongkok (US$174,03 juta) dan Vietnam (US$101,56 juta). Namun, impor dari ketiga negara ini turun drastis, terutama dari Tiongkok yang turun 28,22 persen dan Vietnam yang turun 33,45 persen.
Analisis berdasarkan penggunaan barang menunjukkan penurunan impor yang merata. Barang modal turun paling dalam, yakni 61,06 persen, diikuti barang konsumsi yang turun 60,41 persen. Bahan baku dan penolong turun relatif lebih landai, sebesar 3,79 persen.
Di tengah kontraksi impor ini, neraca perdagangan Riau tetap mencatatkan surplus yang besar. Surplus perdagangan periode Januari-Agustus 2025 mencapai US$13,11 miliar, didorong oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$12,41 miliar.
Penurunan impor yang terjadi dapat ditafsirkan sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini dapat mencerminkan efisiensi produksi dan penguatan industri hulu-hilir dalam negeri yang mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Di sisi lain, penurunan drastis impor barang modal dapat menjadi sinyal pelemahan investasi dan perluasan industri, yang perlu menjadi perhatian pemangku kebijakan ke depan. ***