
PEKANBARU – Bencana yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh kembali memunculkan sorotan tajam terhadap kondisi lingkungan di Pulau Sumatera. Ahli lingkungan Universitas Islam Riau, Edy Sabli, MSi, menyebut kerusakan besar yang terjadi bukan peristiwa alam semata, melainkan dampak dari ulah manusia. Hal itu disampaikannya Jumat (5/12/2025).
Ia menjelaskan hasil berbagai kajian menunjukkan sekitar 90 persen penyebab bencana berasal dari aktivitas manusia, sementara faktor alam hanya menyumbang sekitar 10 persen. Gelondongan kayu yang terseret banjir menjadi bukti kuat kerusakan yang sedang berlangsung. "Kayu-kayu gelondongan itu tidak mungkin muncul begitu saja. Apa pun teori yang dipakai, kesimpulannya tetap sama: manusia penyebab utamanya," ujarnya.
Edy menilai pemerintah harus jujur kepada publik dan tidak terus berlindung di balik istilah bencana alam. Ia menegaskan kerugian bukan hanya berupa materi, tetapi juga kerusakan ekologi yang seharusnya menjadi benteng perlindungan masyarakat. "Korban jiwa sudah banyak. Hutan yang mestinya jadi pondasi perlindungan justru hilang," jelasnya.
Ia mengungkap kondisi di lapangan memperlihatkan kerusakan hutan yang masif. Ratusan hingga ribuan hektare kawasan gundul akibat perambahan dan alih fungsi lahan. “Di mana fungsi pemerintah? Seharusnya melindungi warga negara, bukan membiarkan hutan dirambah demi keuntungan segelintir orang,” kritiknya.
Menurutnya, pemerintah semestinya memahami peran hutan sebagai penghasil oksigen, penyimpan air hujan, penguat struktur tanah, serta habitat bagi satwa dan manusia. Kini fungsi-fungsi dasar itu rusak dan dampaknya dirasakan langsung masyarakat.
Edy mendesak pemerintah mengambil langkah tegas melalui program reboisasi jangka pendek dalam lima tahun ke depan, meskipun pemulihan penuh ekosistem diperkirakan membutuhkan waktu 30 hingga 50 tahun. Ia juga menekankan pentingnya percepatan penegakan hukum terhadap perambah hutan dan pelaku tambang ilegal, termasuk menghentikan izin-izin yang sebelumnya dikeluarkan pemerintah.
"Alam sudah berbicara. Kayu-kayu besar yang muncul di tengah banjir itu adalah bukti yang berkata. Masyarakat sudah tidak menerima lagi alasan yang menyalahkan alam," ungkapnya. Ia menutup wawancara dengan mengingatkan bahwa yang berbicara bukan rangkaian kata, melainkan bukti yang tampak di hadapan masyarakat. ***