MASIH pagi sekali Rabu (12/3/2025) itu. Shalat Subuh baru saja usai. Udara masih terasa dingin. Lembab. Jalanan masih basah, sisa hujan semalam. Di sepagi yang dingin itu, Dedi Musriadi dan istrinya, Rani, sudah beranjak ke luar rumah sederhana mereka yang berdinding papan di pinggiran Jalan Kubang Raya, Siak Hulu itu. Menyeret langkah ke tempat usaha pembakaran arang batok kelapa mereka. Berskala kecil, tapi murni jalan dengan modal sendiri.

Keduanya sempat kaget ketika GoRiau pagi itu menyambangi lokasi usaha mereka. Awalnya Dedi tidak percaya bakalan ada orang yang peduli dengan perjuangan mereka agar anak-anaknya tetap bisa sekolah, agar dapurnya selalu bisa mengepulkan asap. Seperti mereka yang tiada lelah, setiap hari, membakar batok kelapa untuk dijadikan arang.

"Ya.. beginilah kami setiap hari. Usai sahur, Subuh tadi, kami sudah mulai kerja. Sudah mulai masukkan batok kelapa dalam drum. Nanti habis tambah lagi, seperti kita bakar sampah. Biasanya sampai asapnya padam dan arangnya jadi itu ada sekitar 6-7 jam. Tergantung kondisi batoknya. Kalau agak basah, biasanya agak lama lagi," kata Dedi membuka cerita.

Dedi bertutur, saat dia mulai buka usaha arang batok kelapa ini, banyak kawannya yang meledekinya. "Apalah kerja kau Dedi, kerja sampah begitu. Ya gak apa, bagi kami sampah ini bisa menghidupi kelurga kami. Kami olah sampah kelapa ini, artinya kami kan sudah ikut juga menjaga lingkungan," ungkap Dedi.

Menurut pria 35 tahunan itu, ia memulai usaha sendiri arang batok kelapa ini sudah sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya, sejak 2018, ia hanya menjadi pemasok batok kelapa untuk sebuah perusahaan milik orang. Waktu itu ia tak ada kerja lain, terpaksa kerja dengan orang lain.

"Namun saya dipermainkan orang itu. Harga dipermainkannya. Dibilangnya harga di Jawa sana murah, padahal tidak begitu, mana kerja kita sudah rumit. Untuk biaya hidup keluarga saja tak cukup. Saya akhirnya cabut. Kebetulan saya ada ilmu sedikit di arang bakar ini, saya cobalah buka sendiri dengan modal seadanya. Saya cari market sendiri. Alhamdulillah, sekarang kami sudah punya pelanggan tetap. Malah sekarang banyak permintaan yang tak bisa kami penuhi karena produksi terbatas," tutur Dedi.

Dedi mengaku sejak setahun terakhir ini ia hanya bisa membakar dua drum batok kelapa karena kesulitan mendapatkan bahan baku batok kelapa. Info dari kawan-kawannya, kata Dedi, kelapa sekarang banyak dibawa ke luar negeri sehingga stok kelapa dalam negeri jauh berkurang.

"Akibatnya awak jatuh jadinya. Aturan dapat banyak arang, karena bikinnya sedikit, ya paling dapat Rp70 ribu satu hari. Tapi gak tentu juga. Kadang lebih kadang kurang, tergantung penjualan. Kalau lagi banyak permintaan, bisa lebih Rp100 ribu sehari. Untuk modal bakar dua drum itu saja sudah Rp500 ribu," papar bapak dua anak itu.

Saat ini pelanggan arang batok kelapa Dedi sudah lumayan banyak. Pelanggannya mulai dari orang rumahan, usaha sate madura, cafe-cafe, dan resto. Satu kantong plastik sedang mereka jual Rp12 ribu. Packing yang besar juga ada. "Yang packing agak besar itu biasanya untuk isi langganan, Rp40 ribu sampai Rp45 ribu sekantong. Harganya sudah beda, kalau ambil banyak kita kurangkan. Satu drum itu kita dapat biasanya 30-35 kilo atau lebih kurang 32 kantong plastik sedang, kali Rp12 ribu," jelas Dedi.

Rani, istri Dedi menambahkan, sebenarnya mereka bisa saja membakar banyak batok kelapa. Tapi karena bahan baku susah, jadi berdampak pada banyak arang yang dihasilkan. "Bisa saja lebih dua drum, tapi ya itu tadi, bahan bakunya sulit sekarang. Lagian kami juga tau, kalau bakar lebih dua drum, itu asapnya banyak. Takut ganggu lingkungan juga. Ini untung kita bakar gak dalam perumahan, pinggir jalan. Kita usaha juga gak mau menyusahkan orang lain. Kalau kami punya tanah, dan stok bahan baku banyak, rencana kami mau buka tempat yang lebih besar lagi. Nanti kita bikin rumah bakarannya seperti rumah penguin," ujar Rani pula.

Soal modal usaha, Dedi mengaku takut meminjam ke pihak lain. Selama ini ia mengandalkan modal sendiri yang tak seberapa. "Kadang kalau meminjam saya itu takut jatuh riba. Kalau yang bantuan dari pemerintah, saya malah baru tau ada untuk usaha kecil begini. Saya juga belum tau caranya biar dapat. Tapi paling tidak sampai saat ini usaha kami ini terus jalan, meski bahan baku susah. Yang penting anak-anak bisa sekolah, kami dapat makan ya syukur Alhamdulillah," sebut Dedi.

Begitulah. Pasangan suami-istri dari rumah seadanya di pinggiran Jalan Kubang Raya, Siak Hulu, Kampar, itu terus dan terus membuat asap, terus mengepulkan asap putih kekuningan, untuk bisa membuat dapur mereka juga terus berasap.  ***