DUA minggu sudah Cinta tidak masuk sekolah untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya, karena kondisi kesehatan Cinta yang terus menurun. Cinta adalah anak terakhir dari keluarga Widodo. Kedua orangtua Cinta telah meninggal sejak Cinta berumur enam tahun karena kecelakaan.

Saat Cinta berumur sepuluh tahun, dokter mengatakan bahwa Cinta mengidap kanker otak stadium awal. Seharusnya Cinta sudah menjalani kemoteraphy di umur Cinta yang sekarang telah beranjak dua belas tahun, namun Cinta tidak ingin dioperasi, dengan alasan bahwa Cinta baik-baik saja. Setiap akan dibawa cek kerumah sakit,  Cinta selalu menangis dan tidak ingin makan setibanya di rumah. Oleh sebab itu, sekarang kakak dan abang Cinta pasrah dan hanya melakukan pengobatan tradisional. Cinta tinggal bersama ketiga kakak nya, abang Cinta bekerja di kalimantan dan hanya pulang saat lebaran saja. Kakak dan abang Cinta sangat menyayangi adiknya itu, apapun keinginan Cinta pasti selalu dituruti, termasuk keinginan Cinta untuk menggunduli rambutnya, “Kak, Aku mau potong rambut..” rengek Cinta dengan manja, saat itu dengan Kak Tina, kakak paling tua dikeluarga nya saat ini.“Iya sayang, besok kita kesalon ya,  Kamu mau potong model apa??” tanya Kak Tina pada Cinta.“Aku mau potong semua rambut Aku Kak, seperti pemain bola kesukaan abang” kata CintaMendengar perkataan adiknya itu, Tina sempat syok dan sempat ingin menolak keinginan “gila” adiknya itu. Sebelum mengiyakan keinginan adiknya itu, Tina berdiskusi terlebih dahulu dengan adik-adiknya yang lain. Semua setuju dengan alasan kasihan kalau Cinta setiap hari harus melihat helai demi helai rambutnya yang indah itu habis begitu saja, menurut mereka lebih baik dipotong saja agar Cinta  tidak merasa terganggu dengan rambut-rambut yang setiap hari jatuh dari kepala Cinta. Akhirnya rambut cinta yang hitam dan panjang itu telah dipotong dan kini dengan kepala yang mengkilat Cinta menjalani hari-harinya dengan bahagia.Seminggu lagi Cinta akan berulang tahun yang ketiga belas. Sebenarnya kakak-kakak Cinta telah menyiapkan acara sederhana bersama keluarga. Namun, tanpa sepengetahuan kakak-kakaknya, Cinta telah menulis surat untuk mereka yang berisi semua keinginannya.Surat pertama yang dibuat oleh Cinta akan diberikan untuk Kak Tina, kakak yang paling tua dan paling sayang kepadanya.“Kak Tina sayang, untuk kado ulang tahun Cinta, Cinta mau dibeliin baju yang bagus Kak, yang warna nya putih,dan banyak pita nya kak. Cinta mau pakai sewaktu Cinta ulang tahun… Kakak mau kan beliin nya untuk Cinta? Cinta sayang Kakak..”Setelah menulis surat yang pertama , kemudian Cinta membuat surat yang kedua untuk diberinya kepada Kak Rina, kakak nomor tiga yang selalu mengajarkan nya matimatika.Setelah menulis surat yang kedua tadi, cinta mulai merasa pusing. Memang semenjak Cinta mengidap kenker otak, Cinta tidak bisa berpikir terlalu keras dan tidak bisa kecapekan. Akibatnya setelah menulis surat itu, Cinta tertidur untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.Keesokkan harinya saat semua kakak-kakaknya pergi bekerja, Cinta melanjutkan membuat surat-surat daftar hadiah ulang tahunnya, dia takut terlambat memberikan surat itu untuk abang nya yang di kalimantan, karena bagi Cinta itu adalah hadiah sesungguhnya yang paling ia tunggu.Surat ketiga yang ditulis Cinta di hari kedua untuk Kak Ceria. Kakak yang selalu menghibur Cinta kalau Cinta sedang merasakan sakit ataupun merayu Cinta untuk makan obat Cina yang tidak bisa dibayangkan betapa pahitnya obat itu, dan itu diminum oleh anak yang baru berumur dua belas tahun. “Kak Ceria yang paling cantik..Cinta mau dibeliin topi yang keren seperti punyanya Abang Boy pacarnya Kak Ceria..kakak mau beliin nya untuk cinta kan? Cinta mau pakai waktu ulang tahun Cinta, biar kelihatan keren..hehe.. Kalau  kakak mau beliin nya untuk Cinta, Cinta pasti mau minum obat lagi..beliin Cinta topi ya kak..Cinta sayang Kakak..”Setelah selesai menulis surat ketiganya, Cinta melanjutkan surat terakhirnya untuk abang nya yang bekerja di Kalimantan. Sebelum menulis surat terakhir itu, Cinta menatap sejenak foto kedua orang tua nya dan tersenyum, sambil berkata, “Cinta sayang Abi dan Umi, Cinta mau bersama Abi dan Umi....” Lalu Cinta mencium foto tersebut. Tanpa sengaja air mata Cinta menetes dipipi tembem nya itu. Cinta menyeka air mata itu lalu mengambil kertas, kemudian menulis surat terakhir untuk abangnya.“Assalamualaikum Bang Alip, Bang Alip apa kabar? Cinta disini baik-baik aja..Abang juga kan? Abang Alip,.. Ccinta sebentar lagi ulang tahun, Cinta mau dibeliin kado..tapi Cinta gag tau apa kado Cinta ini kemahalan atau enggak... Cinta mau dibeliin tiket pesawat..terus tiket itu Cinta kasih ke Abang,,kan dengan gitu Abang bisa pulang liat Cinta, Kak Tina, Kak Rina, dan Kak Ceria. Abang mau kan beliin Cinta tiket pesawat? Cinta tunggu Abang di rumah, Abang harus datang ya, pas ulang tahun Cinta.. Cinta sayang Abang...”Setelah semua surat selesai ditulis, kemudian Cinta memasukkan  satu per satu surat itu kedalam amplop berwarna merah muda, warna kesukaan Cinta. Kemudian Cinta meletakkan satu per satu surat itu kedalam kamar kakak-kakaknya.  Setelah Cinta meletakkan surat itu  ke kamar kakak-kakak nya, Ia memanggil Bik Asih,  pembantu di rumah Cinta. “Bibik…”teriak Cinta dengan lembut kepada Bibinya.“Ya Cinta..ada apa?? Ada yang bisa Bibik bantu Cinta?” jawab Bik Asih dengan lembut pula.“Ini Bik, tolong antarkan ke kantor pos, kirimkan surat ini untuk Bang Alip,  Bik Asih tau kan alamat kerja nya Bang Alip??” jawab Cinta sambil memberikan surat dengan amplop merah muda itu.“Apa Cinta? Surat untuk Bang Alip?? Kenapa gag Kak Tina saja yang mengirimkan Cin?” tanya Bik Asih, yang memang sudah menganggap Cinta dan kakak-kakak nya sebagai anak sendiri.“Gag usah Bik..biar jadi kejutan bik..hehe..” jawab Cinta  dengan senyum manis dari bibirnya.“Oo..gitu,, ya sudah,  Bibik antarin dulu ya, Cinta sendiri di rumah gag apa-apakan?”“Siiip Bik…makasi ya Bik” jawab Cinta sambil mengacungkan kedua  jempolnya kepada Bik Asih.Seminggu kemudian, saat dua hari menjelang ulang tahun Cinta, kondisi kesehatan Cinta terus menurun. Kepala Cinta sering sakit dan nafsu makan Cinta berkurang. Dengan keadaan seperti itu, Cinta tidak pernah mengeluh, kecuali saat dokter datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Cinta.“Kak,,kenapa kepala  Cinta sakit kalo liat dokter? Trus kalo dokter nya sedang periksa,,jantung Cinta jadi dag dig dug..Cinta takut kak..Cinta gag mau lagi diperiksa dokter. Cinta sehat-sehat aja kok kak..” kata Cinta, sesaat dokter pulang dari rumahnya setelah memeriksa kondisi nya.“Ah masak? Alasan Cinta aja kali?? Dokter kesini, mau obatin Cinta, biar Cinta bisa sembuh, trus bisa sekolah lagi, Cinta gag kangen dengan teman-teman Cinta?” kata Ceria memotivasi Cinta agar mau diperiksa dokter lagi.Sehari sebelum ulang tahun Cinta, dia bertanya kepada kakak-kakak nya saat sarapan pagi, “Kak,,kado Cinta udah disiapkan belum? Kan besok Cinta ulang tahun..hehe..?” tanya Cinta sambil tertawa.“”Udah..tenang aja..semua surat yang kamu kasi ke kakak, Kak Tina, Kak Ceria, isi nya udah dipenuhi semua nya” kata Kak Rina pada Cinta,  sambil mengelus-elus kepala adik kesayangannya itu.“Horrree..makasih Kak!” Cinta menciumi satu per satu kakak-kakak nya.Saat semua kakak-kakak nya pergi bekerja, Cinta termenung dan berpikir tentang surat yang dikirimkan untuk abangnya.“Bibik..sini dong...” pinta Cinta pada Bik Asih“Sebentar Cint!” teriak Bik Asih dari dapur.Beberapa saat kemudian saat Bik Asih datang dari dapur,“Ada apa Cin? Kok menung sih?” tanya Bik Asih pada Cinta“Eh Bibik, gag menung kok Bik. Oh iya Bik, Cinta mau nanya, kira-kira surat yang kita kirim kemaren udah nyampe belum ya Bik? Kok bang alip gag ada telepon ya Bik?” tanya Cinta. “Kalo diliat dari lamanya kita kirim Cin, seharusnya udah nyampe. Gag tau juga Bibik kalo Bang Alip belum telpon, mungkin bang alip lagi sibuk, jadi gag sempat telpon,” jelas Bik Asih pada Cinta.“Iya ya Bik..semoga aja udah nyampe ya Bik. Oh iya Bik, Cinta cuma mau bilang, Bibik tetap jaga Kak Tina, Kak Rina, Kak Ceria dan Bang Alip ya Bik, soalnya Cinta sayang dengan mereka Bik. Bisakan Bik?”“Loh kok Cinta ngomong gitu? Iya jelas Bibik jaga kakak-kakak Cinta dengan baik, Cinta juga Bibik jaga, karena Bibik juga sayang Cinta, dan kakak-kakak yang lainnya,” jelas Bik Asih sambil mencium kening Cinta.Hari ulang tahun Cinta pun tiba, tidak ada pesta yang meriah,tidak ada balon warna-warni, yang ada sebuah kue tart  bewarna merah muda dengan gambar mickey mouse di depan nya, dan kumpulan hadiah dari kakak-kakak nya Cinta. Muka Cinta tampak gembira, namun dia masih menunggu kado yang paling spesial datang.“Ayo coba dong baju dari kakak, pasti cantik deh kalo Cinta yang pakai” kata Kak Tina.“Iya-iya..apa lagi kalo pakai nya dengan sepatu dari kakak. Wihh..pasti tambah cantik deh adik kakak ini,” kata Kak Rina menambahi.Namun Cinta tidak terlalu menghiraukan kata-kata kakaknya, Cinta selalu melihat keluar, menunggu abangnya datang.“Cinta kenapa? Gag suka dengan kado yang ada? Ayo dong Cinta dicoba..” kata Ceria ketika melihat Cinta terus memandang keluar.“Eh..iya-iya kak..bagus semua nya, Cinta suka Kak..oh iya Kak, Bang Alip gag ada telepon iya?” tanya Cinta pada kakaknya.Saat itu kakaknya terkejut dan bingung harus jawab apa. “Cinta mau telepon Bang Alip ya? Kakak telepon kan, iya..” kata Tina dengan lembut.“Eh..gag usah kak, nanti ganggu kerjanya Bang Alip, trus nanti Bang Alip-nya kena marah dengan bosnya, hehe..”  jawab Cinta dengan tetap tersenyum.Hari itu Cinta tampak bahagia, walaupun kado yang paling ia tunggu tidak datang. Hingga sorenya mereka masih berkumpul sambil makan-makan dan foto-foto bersama. Pada saat malam harinya, kondisi cinta kritis, karena kanker otak Cinta yang telah menginjak stadium tiga dan belum pernah sekali pun ditangani oleh dokter. Semua kakak-kakak Cinta khawatir. Mereka takut terjadi sesuatu dengan Cinta.Subuh, sekitar pukul 05.00 WIB Cinta tidak dapat lagi menahan sakit di kepalanya lebih lama lagi. Sudah hampir tiga tahun Cinta menahan sakit itu. Selang beberapa jam setelah acara sederhana ulang tahun Cinta diadakan, Cinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kakak-kakak Cinta tidak dapat menyembunyikan rasa sedih dan perih kehilangan lagi orang-orang yang mereka sayangi, yaitu Cinta.Sebelum pemakaman berlangsung, Bang Alip, kado spesial yang ditunggu-tunggu Cinta datang. Bang alip langsung berangkat dari Kalimantan dengan pesawat keberangkatan yang pertama menuju Jakarta. Bang Alip baru membaca surat dari Cinta malam harinya setelah pulang kerja. Setelah membaca surat itu, dia langsung memesan tiket pesawat untuk keberangkatan pukul 10.00  WITA. Namun,  sebelum pagi menjelang, Bang Alip mendapatkan kabar bahwa Cinta telah tiada. Bang Alip sangat terpukul dengan kabar tersebut, lalu mempercepat keberangkatannya.Sesampainya di rumah, Bang Alip langsung memeluk jenazah adik yang ia sayangi dan ia Cintai yang telah tergeletak di atas dipan. Sambil terisak-isak Bang Alip mengucapkan kalimat yang membuat adik-adiknya yang lain semakin terharu.“Cinta, maafkan Abang, karena Abang telah telat datang ke acara ulang tahun Cinta. Tapi, sekarang Abang ada di hadapan Cinta, Cinta bangun, bangun. Cinta anak yang kuat, ayo bangun Cinta…”  tangisnya.“Sudahlah Bang, sudah terlalu lama Cinta harus menahan rasa sakit itu, kita harus ikhlas.”  ucap Kak Tina menguatkan abangnya.Setelah pemakaman usai, suasana haru masih tampak di rumah Cinta. Sambil  memandangi foto Cinta, bang alip berkata, "semua keinginan mu telah dipenuhi Cinta. Semua kado yang kamu harapkan dari kami semua telah kamu dapatkan Cinta. Dan maaf kan abang yang sudah terlambat hadir sebagai kado yang paling kamu tunggu. Bang Alip sayang kamu Cinta.  Bang Alip, Kak Tina, Kak Rina, Kak Ceria dan Bik Asih sayang kamu Cinta, kami telah ikhlas melepas kamu, kami tidak ingin melihat kamu menahan sakit lebih lama lagi, kami ikhlas bila Cinta telah dapat berkumpul kembali dengan Abi dan Umi di sana.”***------Siti Hajir adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Universitas RiauE-mail    : [email protected]  : @st_hajir