Ketika aktivitasnya terang-terangan, tetapi pertanggungjawabannya tak kunjung terang.

Ada ironi dalam perumpamaan berburu musang di kandang ayam.

Kandangnya jelas, lahannya tak jauh dari keramaian, kendaraan hilir mudik, dan melibatkan banyak tenaga kerja. Aktivitasnya berlangsung terang-terangan. Namun, ketika ayam-ayam terus berkurang, siapa yang bertanggung jawab justru sulit ditelusuri.

Dalam kehidupan bernegara, ironi ini memang relevan ketika menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan kekayaan yang menjadi kepentingan masyarakat luas. Kegiatannya terlihat, hasilnya diangkut, transaksinya berlangsung, tetapi aliran manfaat, pemenuhan kewajiban, serta pihak yang bertanggung jawab tidak selalu mudah dipastikan.

Yang terlihat belum tentu mengungkap semua persoalan. Namun, yang sulit ditelusuri tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mencari kebenaran.

Tentu, besarnya kegiatan bukan bukti pelanggaran. Namun, semakin besar sumber daya dikelola, semakin besar pula tuntutan terhadap transparansi, pengawasan, dan pertanggungjawaban. Jangan sampai kita hanya sibuk mengejar pelaksana di lapangan, sementara rantai pengambilan keputusan, keuntungan, dan tanggung jawab sesungguhnya belum ditelusuri secara menyeluruh.

Sebab, penegakan hukum bukan soal seberapa ramai perburuan dilakukan, melainkan seberapa jauh kebenaran diungkap dan dipertanggungjawabkan secara adil.

Ketika ayam terus berkurang, rakyat tak membutuhkan perburuan yang gaduh. Rakyat membutuhkan penjelasan yang terang, pengawasan yang nyata, dan pertanggungjawaban yang tidak berhenti di tengah jalan.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar mengapa musang sulit ditangkap, melainkan: apakah kita sudah membangun sistem yang benar-benar mampu menjaga kandang dan menelusuri ke mana ayam-ayam itu pergi?

Sebab, kekayaan publik bukan sekadar untuk dieksploitasi, melainkan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan kepada bangsa dan generasi mendatang. ***