ADAGIUMmenyebutkan: Siapa menguasai media dialah yang menguasai opini. Adagium ini berlaku di negeri kita, apalagi semenjak bermunculan media elektronik, media televisi atau online.

Setiap tv menampilkan dialog, debat, diskusi dengan segala bentuk. Ada ILC, Mata Najwa, Aiman, Rosi dll. Menghadirkan narasumber-narasumber berpredikat pakar, ilmuan, tokoh-tokoh, pejabat-pejabat dan seterusnya. Semula saya tidak tertarik untuk menulis tentang judul ini, tapi ketika saya mengikuti acara Sentilan-Sentilun di MetroTV, dimana bintang tamunya Prof. Dr. Hermawan Sulistyo, tersebutlah oleh beliau istilah OPB yaitu Orang Pintar Baru.

Beliau mengatakan akhir-akhir ini bermunculan orang-orang pintar baru, terutama di televisi. Mereka memang orang-orang baru muncul yang sedang getol-getolnya “mencari panggung”.

Hobby-nya bicara, kalau bisa masuk tv. Padahal bicaranya masih biasa-biasa saja, kadang-kadang malah diluar konteks, kurang sistematis, berulang-ulang dan sebagainya. Yang penting baginya masuk TV. OPB ini kebanyakan berasal dari organisasi-organisasi besar, seperti MUI (Oknum), Muhammadiyah (Oknum), kampus, apalagi DPR.

Begitu pula yang berpredikat pengamat, sayangnya banyak yang tidak linear dengan latar belakang keilmuannya. Pengamat politik tapi dari UIN, ya boleh-boleh saja, tak ada larangan. Jika kita lihat gaya OPB ini, ok banget. Seperti dialah segala-galanya, orator ulung, menggurui dan berlagak pakar banget. Padahal banyak yang mencemooh, karena analisisnya dangkal dan tidak pas.

Dulu ada tulisan (Opini) mengusulkan didirikan fakultas pengamat, agar jelas latar belakangnya sekaligus menghindari inflasi pengamat.

Ketika OPB sibuk mencari panggung untuk masuk TV, mediapun memanfaatkan kemunculan mereka, tanpa ada seleksi sedikitpun. Maka berkeliaranlah tontonan-tontonan yang penuh dengan dagelan-dagelan saja. Analisis Yes, aksi nyata No.

Begitulah acara televisi, menampilkan acara debat tapi tak ada ujung, hanya syarat analisis yang muaranya hanya laa salam, walaa kalam. Diskusi dan debat silahkan jalan terus, pengamat dan pakar silahkan ngomong, tapi jangan lupa adagium berikutnya, bicaralah anda, kami akan tahu siapa anda. Kita tahu analilis itu penting, tapi harus ada muaranya, jika tidak itulah yang disebut analisis YES, aksi nyata NO.

Kepada Orang Pintar Baru kita harapkan, jadilah narasumber berkualitas, berwawasan, linear dengan keilmuannya, jangan menggurui, masyarakat juga banyak yang pintar lho. Jika tidak itulah yang disebut dagelan-dagelan atau pepesan kosong, atau sekedar latihan bagi orang-orang pintar baru. Untuk media elektronik kurangilah menampilkan orang-orang yang sudah mati pajak.

Biasanya orang-orang yang sudah mati pajak ini menderita penyakit Post Power Syndrome tapi masih ingin unjuk gigi (padahal sudah ompong).

Semoga orang pintar baru (OPB) dan media saling bekerja sama tapi jangan melupakan kualitas dan mendidik. Jangan hanya sekedar tontonan belaka.***  

Iqbal Ali adalah Pengamat Sosial Politik