
SEBAGAI umat beragama terutama Islam, kita disuruh selalu berbuat baik dan berprilaku baik, jangan sekali-kali berbuat kemungkaran dan itulah orang orang beruntung (Ali Imran: 104). Ayat diatas sepertinya saat ini hanya sebuah wacana, sebuah keinginan dan sejak dulu sampai sekarang masih saja merupakan keinginan, artinya kualitas keislaman kita masih rendah dimana pengamalan masih bermasalah.
Terbukti, dari semakin merajalelanya kemungkaran kemungkaran dimuka bumi terutama di negeri kita Indonesia tercinta. Banyak sudah julukan yang diberikan kepada Indonesia, dari negeri 1001 maling, negeri yang tidak terdidik (uneducated), negeri yang tidak dipercaya (distrust country) dan akhir akhir ini muncul pula julukan baru, negeri yang gagal. Kita sudah melihat dan mendengar, pintar pintar dipenjara, alim alim juga dipenjara, cantik cantik dan berjilbab dipenjara pula, dan sangat menyedihkan pemimpin pemimpin partai islam menjadi terdakwa dan dipenjara. Sepertinya ada yang salah di negeri kita,karena kemungkaran betul-betul sudah merisaukan dan luar biasa.Pertanyaannya, kenapa bisa terjadi?Inilah yang harus kita jawab dengan jujur dan saya berkeyakinan terjadinya kemungkaran berawal dari pendidikan, baik umum maupun keagamaan yang indikator nya sebagai berikut: pertama, tidak mantapnya pemahaman terhadap tujuan agama islam. Masih banyak yang menganggap tujuan islam adalah shalat, puasa, haji, dsb. Padahal yang demikian adalah rukun bukan tujuan. Sedangkan tujuan islam adalah : rahmatan lil’alamin, bahagia dunia akhirat, baldhotun toyyibatun warobbun ghofur. Dalam bahasa sehari hari adalah: berlangsungnya kehidupan umat manusia secara aman, damai, sejahtera dalam bingkai tauhid dan akhlak mulia. Sehingga betul betul menjadi rahmatan lil’alamin. Kita tahu inti ajaran islam adalah tauhid dan akhlak mulia. Karena tujuan tak jelas, mengambang, maka banyak orang sholat, puasa, haji dan ibadah ibadah lain, namun akhlaknya tercoreng dan memalukan. Apabila tujuan tidak jelas dan tidak mantap maka yakinlah perjalanan akan ngawur, terombang-ambing dan mudah dipengaruhi. Kedua, minimnya porsi pelajaran akhlak/budi pekerti, baik disekolah umum walaupun di wirid-wirid pengajian. Yang menonjol diberikan adalah fikih, ibadah dan syariat-syariat lainnya. Ketiga, kualitas guru, dosen dan ustad belum berpredikat pendidik, hanya sebatas pengajar. Pendidik ialah orangnya berilmu, berbakat, serius dan bertanggung jawab terhadap anak didik dan yang lebih penting lagi berketeladanan. Keempat, Metode dan sistematika belajar perlu di evaluasi karena didominasi oleh ceramah, belum terbiasa dengan diskusi dan mengajak murid dan jemaah aktif baik dimesjid, majlis ta’lim dan seterusnya. Seharusnya yang diperkuat adalah tauhid serta akhlak dan pemantapkan tujuan islam. Kelima, tidak serius belajar agama ditambah pula lemahnya minat baca. Keenam, ada peluang dan sanksi di dunia tidak membuat jera. Akibat kondisi diatas maka muncul orang beraga sebagai berikut : Pertama, beragama hanya formalitas dan rutinitas, rukun islam dan rukun iman dikerjakan tapi tidak berdampak. Kedua, keyakinan terhadap akhirat dan dosa tidak mantap lagi, tidak 100%, katakanlah hanya sekitar 80%. Keadaan sisa inilah yang ditunggu oleh iblis dan setan. Setan selalu mengintai karena ada peluang walaupun 20%, digoda, terus digoda akhirnya kalah dan menyerah, maka terjadilah segala bentuk kemungkaran. Barangkali data Mendagri berikut ini menunjukkan bahwa kemungkaran betul betul sudah menggila atau mengganas. Sudah 23 gubernur terdakwa dan dipenjara, ternyata 3 diantaranya dari Riau (hat-trick), 330 kepala daerah (bupati dan walikota) terdakwa dan dipenjara. Begitu pula 1.212 birokrasi bermasalah dengan hukum. Itu baru angka yang sudah ketahuan, barangkali yang belum ketahuan mari kita jawab masing-masing. Kondisi ini tentu perlu dicegah dan diantisipasi, dengan menutupi semua titik lemah diatas menjadi positif. Semua pihak dengan kemauan keras dan kerja sama yang baik diyakini segala bentuk kemungkaran tidak akan muncul setidak-tidaknya semakin berkurang. Jika tidak ada usaha dan kemauan keras untuk memperbaiki, berarti kita tetap membuka pintu masuk setan, maka diyakini pula kemungkaran semakin menggila. Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa pintu masuk setan a.l. melalui:Cinta Dunia, rakus dan tamak, menganggap enteng dosa, riya dan seterusnya. Naudzhubillah.***(Iqbal Ali adalah mubaligh IKMI Riau)