ARTI kata jahilliyah secara sempit adalah kebodohan atau orang orang bodoh. Sedangkan secara umum pengertiannya adalah kondisi psikologis yang menolak berpedoman kepada ketentuan Allah. Jahilliyah ada dimana mana, kapan saja dan tidak hanya di tanah Arab. Jahilliyah dulu (ditanah arab) kondisinya : Tidak ada hukum, kesewenang wenangan, dikendalikan nafsu, menyembah berhala dan perempuan tidak ada nilai. Dikatakan juga Jahilliyah tempo dulu (dinegeri arab) negeri yang biadab. Pengaruhnya tidak begitu luas, terbatas hanya dijazirah arab. Ketika kebenaran datang yaitu islam, mereka menyerah. Hanya lebih kurang 10 tahun Rasulullah memperbaiki Jazirah arab dari negeri biadab menjadi negeri beradab.

Jahilliyah masa kini, dari segi pengaruh: luar biasa, dahsyat, merusak mental, menghancurkan generasi, menyengsarakan rakyat, merobohkan sendi sendi berbangsa dan bernegara. Sulit diatasi, merupakan mafia mafia yang sangat licik. Kondisi : berhala memang tidak ada, perempuan dihargai namun akhlak atau moral hilang sama sekali. Tahu syariat islam, tapi tak diamalkan. Wirid sering tapi tak ada hasil dan tidak ada dampak. Tauhid percaya, tapi mulai ragu. Rasulullah diakui suri tauladan, tapi tidak ditiru, hanya diperingati dan diwiridkan. Ayat ayat hafal, tapi tak diamalkan.

Maka jangan heran bermunculan orang orang munafik, orang orang pintar tapi licik, korup, suka berdebat dan menyalahkan orang lain. Tak punya rasa malu, tamak, sok tahu, suka bohong sombong dan merasa segalanya. Kita pasti tahu, saat ini cantik cantik tapi koruptor, berjilbab dipenjara, alim alim apalagi ketua umum partai islam terdakwa dan di penjara. Padahal jelas jelas semua yang kita sebut diatas ditolak oleh islam.

Banyak ayat ayat dan hadist sahih yang memperingatkan kita, seperti Al-Hujurat 11, Al-Maidah 57 dan hadist hadist sahih lainnya, Al-Ahzab 57 dan hadist hadist sahih lainnya. Jahilliyah masa kini dimana masyarakat terutama para pemimpin dan politisi kerjanya sebagian besar mempermainkan agama. Kata dan perbuatan pecah kongsi. Pedoman hidupnya tidak lagi pancasila tetapi dwisila, yaitu kekuasaan yang maha esa dan keuangan yang maha kuasa. Melakukan yang munkar dan ma'ruf silih berganti Sesejaki berbuat baik setelah itu korup lagi.

Banyak media maupun para pakar dan pengamat menyebutkan bahwa legislatif kita akhir akhir ini semakin tidak dipercaya oleh masyarakat luas. Kinerjanya bernilai merah. Saya teringat mantan ketua DPR RI Marzuki Ali menyebutkan di televisi bahwa yang masuk ke DPR itu latar belakangnya memang berbeda beda. Ada yang dari artis, pedagang, pengangguran (mencari kerja) pelawak (semua yang dilakukannya orang tertawa) malah ada yang preman yang mempergunakan otot bukan otak, hanya sebagian kecil yang benar benar pantas sebagai wakil Rakyat.

Makanya jangan heran jika banyak hal hal aneh muncul dari anggota dewan. Tapi tidak berarti eksekutif luput dari persoalan ini. Data yang disampaikan oleh mantan Mendagri Gamawan Fauzi, sejak 2005 sampai 2014 sebanyak 3.469 legislatif (DPR-DPRD) terjerat kasus korupsi (Kompas, Agustus 2014). Sedangkan menurut komisi 3 DPR Bambang Soesutiyo sudah 304 pejabat/birokrat bermasalah. Ditambah lagi PNS yang korup sebanyak 1221 orang (Kompas, Agustus 2014).

Informasi dari Mahfud MD menyatakan para koruptor itu 85% beragama islam dan 80% berpendidikan tinggi (Haluan Riau, Juni 2013). Ada kesan akhir akhir ini bahwa seolah olah ada gerakan terselubung yang menghendaki : Mari kita hancurkan bangsa ini dengan cara kita masing masing. Oleh sebab itu jahilliyah masa kini jelas jelas merusak tatanan berbangsa dan bernegara. Kita berkewajiban untuk mencegah dan memberantasnya dengan cara mengawal proses perpolitikan dinegeri kita terutama dibidang legislatif yang semakin lam semakin tidak bermutu. Jika tidak, maka berhasillah jahiliyah masa kini menjadikan negeri kita yang sudah beradab menjadi negeri biadab kembali. Naudzubillah.***

Penulis adalah pengamat sosial keagamaan.