
JAKARTA - Kalijodo merupakan salah satu kawasan lokalisasi tertua di Jakarta. Berdiri sejak 1960 Kalijodo memiliki 66 kafe yang berdiri di wilayah tersebut.
Untuk meng'aktif'kan suatu kafe ternyata Kalijodo memiliki ritual tersendiri. Mengejutkan ritual tersebut ternyata acara syukuran dengan tahlilan. Kegiatan tersebut dilakukan agar kafe itu nyaman untuk ditempati.
Seorang tokoh agama asal Bugis, Salman (42) seringkali diminta oleh warga yang masih ada ikatan keluarga dengannya. Kegiatan syukuran dilakukan di dalam kafe dengan dihadiri seluruh penghuni kafe termasuk di dalamnya para pekerja seks komersial (PSK).
"Karena baru membuka bar baru, mereka (PSK) keluar juga penampilan apa adanya dengan mengaminkan doa saya," ujar Salman di Kalijodo, Rabu (24/2).
Dari lantai dua dan tiga kafe, para PSK turun dengan menggunakan baju yang agak terbuka alias seksi. Namun Salman tak bisa menegur para perempuan tersebut.
"Pada saat saya pimpin doa itu, mereka-mereka (PSK) turun dan saya liat mukanya sedih mungkin mereka menyesal," tambah Salman.
Salman menjelaskan bahwa kejadian tersebut sudah terjadi beberapa belas tahun yang lalu. Selain memandu doa untuk dibukanya kafe, dia juga sering ditanyai soal hukum Islam oleh para pemilik kafe dan bar.
"Hukum Islam tetap hitam-putih, sebab maksiat tetap maksiat," ucap Salman menirukan perkataannya waktu itu.
Salman juga menambahkan bahwa ia sering mendengar dari warga bahwa banyak PSK yang bertaubat dan melaksanakan salat lima waktu di kamar mereka. Tapi ia tidak pernah lihat PSK yang salat di masjid di kawasan itu.
"Kebanyakan mereka yang salat di masjid hanya security dan pemilik. Namun untuk PSK yang salat di masjid saya tidak pernah melihat," imbuh Salman.
Salman juga memaparkan bahwa harus ada bimbingan rohani bagi para pemilik dan pengelola kafe setelah Kalijodo ditertibkan agar maksiat tidak menyebar ke tempat lain.***