DIREKTUR organisasi nirlaba Arakan Project Chris Lewa kemarin mengatakan sudah lebih dari 100 ribu warga muslim Rohingya meninggalkan Myanmar akibat konflik sektarian terjadi sejak dua tahun lalu.

Lewa menyatakan sejak 15 Oktober lalu rata-rata 900 orang muslim Rohingya per hari pergi meninggalkan Myanmar dengan kapal kargo dari negara Bagian Rakhine, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, sabtu (25/10).

Dalam dua pekan terakhir angka pengungsi sudah mencapai hampir 10 ribu orang, terbanyak sejauh ini.

Di negara berpenduduk 50 juta dan mayoritas penganut Buddha itu ada sekitar 1,3 juta muslim Rohingya. Nenek moyang mereka sudah mendiami Myanmar setelah pindah dari Bangladesh beberapa generasi lalu. Kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah Rakhine.

Dalam konflik dua tahun terakhir dengan warga Buddha, korban tewas sudah mencapai ratusan orang dan sekitar 140 ribu lainnya terjebak di desa-desa terpencil tanpa akses ke pendidikan dan kesehatan memadai, serta lapangan kerja.

Baru-baru ini puluhan muslim rohingya ditangkap karena dituduh punya kaitan dengan kelompok militan Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO).

Warga di Kota Maungdaw bernama Khin Maung Win mengatakan mereka yang ditangkap itu juga disiksa saat ditahan.

Lewa mengatakan tiga orang tewas.

"Tim kami semakin yakin penangkapan itu terjadi di saat makin meningkatnya warga yang mengungsi," kata Lewa.

Juru bicara Negara Bagian Rakhine Win Myaing membantah ada penyiksaan selama penangkapan.

"Tidak ada penangkapan terhadap dugaan anggota RSO. Saya belum mendengar kabar seperti itu, kata dia.***