
PEKANBARU, GORIAU.COM - Belajar dari pengalaman bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama ini, termasuk yang sekarang terjadi, Drs. Zulher MS, selaku Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau meminta perusahaan perkebunan di daerah agar segera membangun embung air, untuk menampung limpahan air hujan dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlanjut hingga Agustus 2014.
Embung air yang dimaksudkan oleh mantan Sekda Kampar ini adalah konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpasan (run off). Embung air ini akan berguna jika musim kemarau semakin panjang dan juga jika ada ancaman Karhutla yang akan terjadi.
Zulher meminta kepada perusahaan untuk membuat embung air ini karena Riau dalam beberapa bulan ke depan akan dihadang oleh musim kemarau yang lebih panjang yang diawali dari bulan Februari hingga Agustus 2014. Apalagi menurutnya, pada bulan Juni-Agustus nantinya beberapa kawasan di Asia Tenggara akan dilalui oleh Badai El Nino, dan tentu wilayah pulau Sumatra akan kena imbas angin panas yang dibawah oleh badai tersebut.
''Kita harus belajar dari bencana yang sekarang ini terjadi. Untuk itu, menurut saya Embung Air ini menjadi solusi kita bersama jika bencana kebakaran kembali terjadi. Selama ini tim pemadam kebakaran kita beralasan ketiadaan air di lokasi bencana. Mudah-mudahan hal ini dapat jadi solusi,'' ujar Zulher saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (13/3/2014).
Untuk langkah ke depannya, kata Zulher, dia akan menyosialisasikan pembentukan embung air di seluruh perusahaan perkebunan yang ada di Riau. Sosialisasi tersebut baik dengan pemanggilan langsung perusahaan maupun pada saat pelaksanaan program Monitoring dan Evaluasi yang selama ini telah dilakukannya.
Menurut dia, pembangunan embung dibutuhkan sebagai langkah antisipasi dalam membuat pengelolaan tata air sehingga ketika musim kering masuk maka lahan gambut tidak menjadi kering. ''Kita akan mendesak perusahaan untuk membentuk embung air ini,'' tegas Zulher.
Selain menghimbau perusahaan membuat Embung Air, Zulher juga meminta perusahaan untuk kembali mengaktifkan aliran drainase/kanal perusahaan yang selama ini tidak aktif. Jadi air yang telah ditampung di embung air, sungai kecil maupun wadah penampung air lainnya dapat dialiri di seluruh lahan perkebunan maupun lahan perusahaan.
''Kejadian kebakaran di desa Tanjung Leban, Bengkalis yang kanalnya tidak aktif karena tidak dikelola dengan baik mengakibatkan sulitnya penanggulangan bencana. Untuk itu kita tidak ingin hal ini kembali terjadi ke depannya,'' ujar Zulher.
Ia mengatakan, kalau lahan gambut kering, dan bersamaan dengan masuknya musim kemarau panjang maka gambut tersebut akan mudah terbakar. ''Selain gambut, jika suhu di Riau tinggi mencapai 40 derajat Celcius, ranting-ranting pohon dan daun yang bergesekan ditiup angin akan bisa memicu timbulnya api dan gambut mudah terbakar,'' katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap seluruh lapisan masyarakat mulai dari TNI, Polri, swasta, perusahaan, petani  dan pemerintah agar bisa mengantisipasi hal itu sehingga kabakaran hutan dan lahan bisa dicegah.
Karhutla di Riau, katanya, tahun 2014 ini merupakan yang terlama dan terluas di bandingkan pada tahun sebelumnya dengan titik api yang juga makin meluas. (rls)