PEKANBARU – Berdiri megah di jantung Kota Pekanbaru, Perpustakaan Provinsi Riau Soeman HS tidak hanya menjadi ikon arsitektur, tetapi juga magnet bagi ribuan pencinta buku dan pelajar setiap tahunnya.

Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Jalan Jenderal Sudirman, bangunan berbentuk rehal ini menjadi oase sunyi bagi siapa saja yang mencari pengetahuan dan ketenangan.

Nama perpustakaan ini diambil dari Soeman Hasibuan—sastrawan asal Riau yang dikenal sebagai pelopor sastra detektif di Indonesia. Diresmikan tahun 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Soeman HS tumbuh menjadi pusat literasi dan kegiatan budaya penting di Provinsi Riau.

Data dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau mencatat lebih dari 219 ribu pengunjung datang ke gedung berlantai enam ini sepanjang tahun 2024. Sebagian besar di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa yang datang untuk belajar, mengerjakan tugas akhir, atau sekadar mencari suasana tenang.

Salah satu pengunjung, Wahyu Pratama, mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, mengaku telah puluhan kali memanfaatkan fasilitas perpustakaan tersebut.

"Tempatnya tenang, nyaman, dan koleksi bukunya lengkap. Saya banyak menghabiskan waktu untuk menulis tesis di sini," kata Wahyu saat ditemui di ruang baca lantai dua, Rabu siang (12/6/2025).

Hal senada diungkapkan Nur Rahmawati, mahasiswi tingkat akhir dari universitas swasta di Pekanbaru. Ia menilai fasilitas perpustakaan sangat mendukung kebutuhan akademik mahasiswa.

"Ada banyak colokan listrik, jadi saya nggak khawatir laptop mati saat ngerjain tugas. Wifi-nya juga ada dan gratis. Buat mahasiswa kayak saya, ini sangat membantu," ujarnya.

Menurutnya, fasilitas penunjang seperti itu bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama bagi mahasiswa yang bergantung pada perangkat digital setiap hari.

Canda Wijaya, mahasiswa lainnya, rutin datang setiap pekan. Ia merasa kenyamanan dan ketenangan yang ditawarkan membuatnya betah berlama-lama.

"Kalau di kosan banyak gangguan. Di sini suasananya mendukung untuk fokus," ucapnya.

Perpustakaan Soeman HS tidak hanya menyediakan ribuan koleksi buku fisik dan digital. Fasilitas lain seperti ruang multimedia, ruang anak, dan ruang literatur Melayu juga tersedia. Di beberapa sudut, pelajar SMP tampak mengerjakan tugas kelompok, sementara di lantai atas sejumlah mahasiswa serius menatap layar laptop.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau dalam pernyataannya menyebutkan bahwa peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun mencerminkan tingginya animo masyarakat terhadap fasilitas literasi yang representatif.

"Kami berkomitmen menjadikan perpustakaan ini sebagai pusat belajar yang terbuka dan inklusif bagi semua kalangan," jelasnya.

Bagi sebagian orang, keberadaan perpustakaan mungkin terasa biasa. Namun bagi pengunjung setianya, Soeman HS bukan sekadar bangunan. Ia menjadi ruang tumbuh, tempat bertukar ide, dan simbol bahwa gairah membaca belum padam di tengah era digital. ***