Refleksi terhadap keserakahan, pengkhianatan terhadap perjuangan, dan nepotisme yang dibungkus atas nama kebersamaan.

Monyet dan kura-kura sudah bersahabat sejak lama. Keduanya sangat akrab, berjalan bersama, mencari makan bersama, bahkan sepakat membangun masa depan bersama. Mereka menanam pohon pisang dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing. Kura-kura menggali tanah, monyet mencari bibit. Keduanya bekerja dengan harapan yang sama: suatu hari nanti mereka akan menikmati hasilnya bersama.

Namun, tidak semua yang ikut menanam memiliki niat yang sama ketika pohon mulai berbuah.

Ketika pisang matang, monyet memanjat pohon pisang dan menikmati seluruh hasilnya seorang diri. Kura-kura yang tidak memiliki kemampuan memanjat hanya menunggu di bawah. Ketika ditanya mana bagian untuk sahabatnya, monyet menjawab dengan berbagai alasan. Katanya, buah yang tersedia tidak cukup untuk berdua. Lalu ia mengajak untuk menanam kembali.

Kura-kura percaya, ia kembali menggali tanah, sementara monyet kembali mencari bibit.

Tetapi pada panen berikutnya, cerita yang sama terulang. Kali ini monyet tidak datang sendirian, ia membawa dua ekor anaknya yang sudah cukup besar untuk ikut memanjat. Dalam waktu cukup singkat, seluruh buah pisang habis dinikmati keluarga monyet. Kura-kura kembali hanya menjadi penonton, menelan ludah di bawah pohon pisang yang dahulu ikut ia tanam.

Karena dipertanyakan, monyet dengan santai memberikan alasan: anak-anaknya telah besar dan sudah pandai memanjat, mereka juga perlu makan.

Di sinilah kisah monyet dan kura-kura itu berubah menjadi cermin kehidupan sosial kita.

Persoalannya bukan pada monyet yang membawa anak-anaknya. Persoalannya adalah mengapa hasil perjuangan bersama dianggap sebagai hak eksklusif keluarga sendiri?

Fenomena seperti ini bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan publik. Ada orang-orang yang dahulu membangun kekuatan melalui kebersamaan, mengajak banyak pihak berjuang, mengumpulkan dukungan, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sumber daya. Semua diajak percaya bahwa perjuangan itu adalah perjuangan bersama dan hasilnya kelak akan dinikmati bersama.

Namun, setelah pohon kekuasaan mulai berbuah, pemandangan berubah.

Yang dahulu berjalan bersama, kini mulai memilah siapa yang boleh naik. Yang dahulu mengaku memperjuangkan kepentingan bersama, kini lebih sibuk mengamankan lingkaran keluarga dan kerabat. Anak, istri, saudara, ipar, sepupu, orang terdekat, bahkan dari pertalian darah sampai ke pertalian daerah, mulai mendapatkan tempat strategis di sekitar pohon kekuasaan.

Sementara, mereka yang dahulu menggali lubang, menyiram, merawat, menjaga, dan mempertahankan pohon itu diminta tetap bersabar di bawah pohon.

Tentu saja, setiap orang berhak memperjuangkan masa depan keluarganya. Tidak ada yang salah dengan mencintai keluarga, atau membantu orang-orang terdekat. Tetapi jabatan publik, kewenangan, dan kesempatan yang lahir dari perjuangan kolektif bukanlah kebun pribadi yang buahnya boleh dibagikan berdasarkan hubungan darah dan kedekatan.

Kekuasaan bukan warisan keluarga. Jabatan bukan hadiah perkawanan. Dan perjuangan kolektif bukan tiket bagi seseorang untuk membangun kerajaan kekerabatan.

Ada perbedaan besar antara mengangkat orang berdasarkan kemampuan dan memberi tempat karena hubungan keluarga. Ada perbedaan antara membangun regenerasi kepemimpinan dan mempersiapkan dinasti kekuasaan. Ukurannya bukan siapa yang paling dekat dengan penguasa, melainkan siapa yang memiliki kapasitas, integritas, dan kelayakan untuk mengemban tanggung jawab.

Sayangnya, dalam kehidupan yang terlalu mengagungkan kedekatan dengan kekuasaan, kemampuan bekerja sering kalah oleh kemampuan mendekat. Loyalitas diuji bukan lagi melalui pengabdian, melainkan melalui kesediaan menjadi bagian dari lingkaran tertentu.

Kepada mereka yang sedang berada di puncak, ada baiknya sesekali menengok ke bawah. Lihatlah siapa yang dahulu menggali tanah ketika belum ada buah yang bisa dinikmati. Ingatlah siapa yang tetap bertahan ketika pohon belum menunjukkan tanda-tanda yang akan menghasilkan apa pun.
Lihatlah siapa yang tetap bertahan setelah kemenangan dicapai, walaupun ia terabaikan, karena ia sadar: kemenangan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh.
Kemenangan bukan tujuan akhir, tetapi wadah dan sarana untuk mewujudkan tujuan perjuangan yang sesungguhnya.

Jangan sampai ketika pohon sudah tinggi dan buahnya sudah matang, justru orang yang paling berjasa tidak lagi dianggap sebagai bagian dari cerita.

Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berhasil memanjat pohon. Sejarah juga mencatat siapa yang menanamnya, siapa yang merawatnya, dan siapa yang menikmati hasilnya tanpa mau berbagi.

Pada akhirnya, monyet boleh saja memanjat pohon. Anak-anaknya boleh saja belajar memanjat. Tetapi jangan sampai pohon yang ditanam bersama berubah menjadi milik keluarga, sementara sahabat yang ikut menanam hanya diwarisi janji.

Persahabatan tanpa keadilan hanyalah pemanfaatan yang diberi nama kebersamaan. Perjuangan tanpa penghargaan hanyalah pengorbanan yang sengaja dilupakan.

Salam Refleksi. Jangan sampai kita menjadi monyet yang merasa paling berjasa karena berhasil memanjat, tetapi lupa bahwa ada kura-kura yang sejak awal ikut menanam pohonnya. ***