
PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Sampai saat ini, mata pencaharian sebagai penyadap karet merupakan salah satu mayoritas kebutuhan masyarakat Kabupaten Pelalawan. Hal ini dikarenakan di Kabupaten Pelalawan masih tersedia lahan untuk bercocok tani komoditi kebun karet sehingga bisa menjadi salah satu pilihan masyarakat sebagai tempat menafkahi hidupnya. Ironisnya, para petani karet tersebut oleh Dinas Pertanian maupun Perkebunan sepertinya kurang terperhatikan. Baik tingkat kesejahteraannya maupun pembekalan ilmu dan pembinaan terhadap petani karet itu sendiri.
"Kita akui bahwa profesi masyarakat di Kabupaten Pelalawan ini mayoritasnya adalah petani. Dua komoditi unggulan yang saat ini tetap digeluti masyarakat, yakni sektor kebun kelapa sawit dan karet. Namun, terkadang kita merasa miris melihat nasib petani karet yang terkesan tidak ada inovasi pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian maupun Perkebunan. Sehingga petani karet itu dalam mengembangkan usahanya itu terkesan bakat alam dan otodidak, tanpa adanya sentuhan maupun campur tangan dinas terkait. Sehingga produksi yang dihasilkan tidak maksimal," terang salah satu anggota DPRD Pelalawan asal PAN, Nazaruddin Arnazh, pada sejumlah media di Pangkalan Kerinci, Rabu (20/3/2013).
Nazaruddin mengatakan bahwa yang lebih parah lagi hasil panen sawit masyarakat terkesan dieksploitasi oleh pihak lain. Hal ini bisa ditengarai dari menjamurnya para tauke-tauke karet dari luar daerah untuk membeli hasil panen karet, membuat harga yang ditawarkan bervariatif, bahkan sengaja ditekan oleh para cukong itu.
"Belum berdirinya pabrik Karet di Pelalawan ini, salah satu faktor penting harga terkesan dipermainkan oleh para cukong yang sengaja masuk ke Pelalawan ini. Kemudian, tidak adanya sentuhan pembekalan ilmu maupun inovasi baru dari dinas terkait. Mestinya oleh dinas terkait, lakukan pendataan terhadap kebun karet masyarakat yang sudah tidak produktif lagi, kemudian direflanting serta ditanami kembali dengan bibit karet yang unggul yang telah teruji melalui riset," ungkapnya.
Kemudian, sambungnya lagi, tahapan pembinaan berikutnya, berdirinya pabrik kelapa sawit di bumi seiya sekata ini. Sehingga para cukong yang berasal dari luar daerah itu, tidak bisa semena-mena lagi untuk membeli hasil panen karet masyarakat. Karena secara otomatis, masyarakat akan menjual hasil panennya ke pabrik milik kita sendiri.
"Jika terobosan itu sukses direalisasikan, niscaya barulah tercapai kesejahteraan tingkat perekonomian petani karet tersebut. Hal itu mesti kita sikapi dan pikirkan bersama", tutupnya. (ilm)