
BATAM - Suasana haru dan penuh kekhidmatan menyelimuti Kampung Pantai Melayu, Kecamatan Galang pada Senin (7/9/2026) malam. Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) berkumpul memanjatkan doa, mengenang kembali luka mendalam dari insiden yang pecah di Tanjung Kertang tepat tiga tahun silam.
Peringatan tiga tahun tragedi 7 September 2023 ini tidak sekadar diisi dengan selawat, tetapi juga menjadi panggung refleksi bagi perwakilan masyarakat dari berbagai pelosok. Warga dari Kampung Sungai Raya, Sungai Buluh, Sembulang Hulu, Sembulang, Pantai Melayu, Pasir Panjang, hingga Pantai Tiga Putri hadir menyatukan suara, termasuk barisan generasi muda yang ikut ambil bagian.
Sejak pukul 20.00 WIB, area parkir Kampung Pantai Melayu telah dipadati lautan manusia yang datang bergelombang menggunakan kendaraan roda dua dan empat demi menyatukan barisan.
Kekompakan Menjaga Warisan Leluhur
Ketua Panitia, Miswadi mengungkapkan bahwa gelaran doa bersama ini merupakan cara masyarakat pesisir merawat ingatan dan menebalkan tekad perjuangan dalam menjaga kelestarian ruang hidup mereka. Tragedi memilukan di Tanjung Kertang, menurutnya, harus dijadikan cambuk untuk mempererat ikatan persaudaraan demi mewariskan tanah leluhur kepada anak cucu kelak.
Ia mengingatkan bahwa jalan panjang mempertahankan hak atas kampung akan selalu berhadapan dengan beragam ujian berat. Oleh karena itu, persatuan warga menjadi senjata utama yang tidak boleh goyah.
"Jangan sampai kita tergoda oleh iming-iming. Selama ini kita tetap bisa makan tanpa ada bantuan, orangtua kita dulu juga. Jadi jangan khawatir kalau tidak dapat bantuan," tegasnya di hadapan ratusan warga yang hadir.
Kampung Sebagai Identitas Melayu
Sementara itu, tokoh masyarakat Kampung Pantai Melayu, Gerisman Ahmad mengingatkan kembali filosofi mendasar tentang keberadaan sebuah perkampungan bagi masyarakat adat Melayu. Baginya, kampung bukan sekadar bentang alam, melainkan akar identitas kultural tempat tumbuhnya adab, etika, dan tunjuk ajar yang diwariskan dari para pendahulu.
Tidak ada gunanya meraih pencapaian duniawi yang tinggi apabila kampung halaman yang menjadi wujud identitas justru lenyap ditelan zaman, terangnya.
Pesan serupa disuarakan oleh Sopia, perwakilan dari Kampung Sungai Raya. Dalam refleksinya, ia menitikberatkan pada esensi keadilan dan kemanusiaan. Perjuangan warga Pulau Rempang saat ini, menurutnya, adalah bentuk nyata dari upaya menegakkan martabat keadilan itu sendiri.
Sopia turut mengutip pemikiran Bapak Bangsa, Abdurahman Wahid yang pernah berpesan bahwa kemanusiaan harus senantiasa ditempatkan di atas segala-galanya. Ia juga meminjam pandangan pejuang anti-apartheid, Nelson Mandela untuk membakar semangat warga.
"Menjadi merdeka bukan sekadar melepaskan belenggu, tetapi hidup dengan cara yang menghormati dan memperluas kebebasan orang lain," ucapnya menukil tokoh dunia tersebut.
Di penghujung malam, rentetan orasi bergema di bawah langit Rempang. Ratusan warga secara serentak menyerukan deklarasi untuk terus menuntut kesetaraan perlakuan sebagai sesama manusia, serta mempertahankan kampung halaman yang dititipkan nenek moyang sebagai ruang hidup yang abadi bagi generasi masa depan. ***