
PEKANBARU – Penggantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa dalam reshuffle kabinet 8 September 2025 dinilai ibarat "main judi" bagi perekonomian Indonesia. Reaksi pasar yang langsung negatif, ditandai oleh penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,28%, membuktikan betapa besarnya ketidakpastian yang menyelimuti keputusan ini.
Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menyamakan Sri Mulyani sebagai sebuah "kapasitor" atau "mur" vital dalam mesin ekonomi negara yang telah teruji dalam menghadapi berbagai macam tegangan dan gejolak, dari kondisi stabil hingga fluktuatif bak roller coaster. Meski tampak "aus dan lelah" setelah menjalani gesekan panjang, fungsinya dalam menjaga stabilitas fiskal dan mengelola utang tak perlu diragukan lagi.
"Sri Mulyani udah lihai kali ngatur arus biar nggak konslet. Walaupun udah nampak 'aus dan lelah', fungsinya tetap vital," ujar Tampubolon, Senin (8/9/2025) malam.
Masalah utama, menurutnya, adalah Purbaya sebagai "kapasitor baru" yang masih "kinclong" dan belum teruji, langsung dihadapkan pada "tegangan tinggi" dari "jalanan" yang mendaki. Beban berat seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan arus dana besar serta utang negara yang sudah membengkak, berisiko membuat "rangkaian" ekonomi menjadi tidak stabil atau bahkan "korslet" akibat defisit APBN yang membesar.
"Ini kayak disuruh angkut barang berat pake mobil baru yang belum pernah dibawa jauh. Risikonya gede kali," tegasnya.
Perbedaan mendasar lainnya adalah sumber gesekan utang. Jika utang pada era Sri Mulyani banyak disebabkan kondisi darurat, utang yang nanti dikelola Purbaya akan digunakan untuk membiayai program yang "direncanakan". Hal ini berpotensi memindahkan gelar "Ratu Utang" kepada Purbaya dan memicu sorotan pedas dari berbagai pihak.
Tampubolon memperkirakan masa "wait and see" pasar akan berlangsung sekitar 1-3 bulan, sangat bergantung pada kemampuan Purbaya mengambil langkah konkret dan meyakinkan. Kebijakan perdana Purbaya dalam menunjuk tim, merumuskan anggaran, dan komitmen menjaga stabilitas fiskal akan menjadi penentu apakah pasar akan rebound atau justru makin terkoreksi.
"Ini ibarat mau ganti jantungnya ekonomi negara. Kalau dia salah langkah, bisa-bisa rangkaiannya jadi nggak stabil," tuturnya.
Pergantian ini memang bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, situasi "overload" ini bisa menjadi kesempatan emas bagi Purbaya untuk membuktikan diri sebagai komponen yang lebih efisien dan tangguh, misalnya dengan meluncurkan reformasi pajak yang agresif untuk mencapai rasio pajak 15%. Namun di sisi lain, ini adalah taruhan berisiko tinggi. Stabilitas mesin ekonomi Indonesia kedepannya sangat bergantung pada kemampuan adaptasi cepat dan ketepatan kebijakan sang menteri baru.
Yang paling dikhawatirkan adalah dampaknya pada masyarakat bawah. Jika pasar bisa menunggu dan mengukur, tidak demikian dengan rakyat kecil. Pertanyaannya, bagaimana menutup mulut-mulut yang lapar jika kebijakan fiskal goyah? ***