
PEKANBARU – Pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dan pengembangan methane capture kini dipersiapkan sebagai proyek strategis lintas daerah. Kebutuhan pasokan limbah terpilah agar kedua proyek ini berjalan optimal ternyata membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang aktif menabung di bank sampah.
Fasilitas bank sampah yang digerakkan di lingkungan masyarakat terbukti memberikan insentif finansial yang nyata. Kebiasaan memisahkan barang bekas dari rumah tangga kini berubah menjadi sumber pendapatan bulanan yang cukup menjanjikan.
"Ada warga yang mampu memperoleh hingga Rp2,5 juta per bulan dari hasil memilah sampah. Jika ini menjadi gerakan bersama, dampaknya akan sangat besar," ungkap Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, Sabtu (25/4/2026).
Pengelolaan limbah berbasis rumah tangga ini sangat krusial mengingat PSEL tidak bisa beroperasi maksimal tanpa ketersediaan bahan baku yang sudah terpilah dari sumbernya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) II Muara Fajar, Kecamatan Rumbai Barat, yang menegaskan bahwa pemilahan adalah fondasi utama penyelesaian persoalan sampah.
Pemerintah kota tidak tinggal diam dan langsung mengambil langkah taktis dengan melibatkan kader PKK serta Posyandu di berbagai kawasan permukiman. Keterlibatan kelompok ibu-ibu dinilai sangat efektif karena mereka yang paling sering bersentuhan dengan urusan limbah rumah tangga sehari-hari.
"Edukasi juga dilakukan melalui lingkungan RT RW dan sekolah," paparnya.
Selain menyasar rukun tetangga, edukasi kepedulian lingkungan hidup terus diperluas ke berbagai institusi pendidikan. Melalui program Adiwiyata, kesadaran memilah sampah ditanamkan sejak dini agar pasokan bahan baku energi terbarukan tetap terjaga serta kelestarian lingkungan dapat terus dipertahankan. ***