PEKANBARU – Netizen Riau meluapkan kritik keras terhadap Baznas Riau melalui berbagai komentar di media sosial, Rabu (2/1/2025), karena diduga menyalahgunakan dana zakat, infak dan sedekah untuk tujuan di luar delapan golongan asnaf, seperti pembangunan jembatan merah putih Polda Riau. Reaksi publik ini muncul di konten TikTok dan memicu ajakan untuk menyalurkan zakat, infak dan sedekah secara langsung ke penerima, menghindari perantara.

Dalam serangkaian komentar di Tiktok GoRiau, , netizen secara spesifik menyoroti alokasi dana zakat untuk infrastruktur umum seperti jembatan, yang mereka anggap seharusnya menjadi tanggung jawab Pemda. "parah ,zakat kok bisa utk jembatan," kecam netizen dengan akun ermita629. Ada juga tuduhan spesifik tentang dana zakat yang "diselewengkan buat bisnis taman wisata," yang menurut netizen merusak tujuan dasar zakat untuk fakir dan miskin.

Gelombang ketidakpercayaan institusional yang kuat juga mengalir dari komentar-komentar tersebut. Netizen mendesak adanya investigasi menyeluruh dan transparansi terhadap pengelolaan dana di Baznas. "usut tuntas Baznas, rata" pengelola zakat bukan orang yg berkompeten dibidangnya...," desak akun Aan. Reaksi ketidakpuasan ini mendorong seruan kuat untuk memberikan zakat langsung ke fakir miskin di lingkungan masing-masing, untuk "menjaga biar aman," menurut saran fery_afrian838.

Kritik tajam lainnya juga menargetkan masalah gaji pejabat Baznas yang dianggap fantastis. "belum lagi gaji pejabat Baznas setiap bulan yang fantastis," keluh akun FC ALBANNA. Di tengah gelombang kritik tersebut, ada pula komentar yang menyinggung keterlibatan Polda dalam menyorot Baznas, yang memicu ironi dan kekhawatiran dari publik.

Menjawab sorotan tajam publik, Ketua Baznas Riau, Masriadi Hasan, menegaskan bantuan yang diserahkan kepada Kepala Biro Perencanaan Umum dan Anggaran Polda Riau, Kombes Pol Daniel Widya Mucharam, Jumat (13/3/2026), tidak menggunakan dana zakat yang peruntukannya mengikat pada delapan asnaf.

"Ini berasal dari infak masyarakat Riau. Karena berdasarkan asnafnya, infak ini bersifat fleksibel. Bisa diserahkan kepada siapa saja yang membutuhkan, untuk kepentingan umum seperti pembangunan masjid, jembatan ataupun fasilitas sosial," papar Masriadi Hasan.

Ia menguraikan, langkah ini merupakan bentuk kolaborasi lintas instansi untuk mempermudah akses pendidikan anak-anak di daerah terpencil yang kerap harus menyeberangi sungai berlumpur tanpa alas kaki. Secara keseluruhan, proyek kolaboratif ini membutuhkan dana sebesar Rp6,9 miliar untuk menangani 26 jembatan.

Sementara itu, Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, membenarkan bahwa keterlibatan Baznas menjadi solusi nyata di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang berat. Pembangunan jembatan ini juga merupakan turunan dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah lebih memperhatikan akses transportasi warga di pelosok desa.

"Jembatan ini untuk masyarakat yang terpencil-terpencil itu. Perintah Presiden Prabowo agar tidak ada lagi anak yang pergi sekolah harus menyeberang sungai sampai mencopot sepatu saat berangkat ke sekolah. Inilah harapan kita dengan adanya Baznas," ucapnya.

Sebagai puncak dari program kolaborasi ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meresmikan langsung Jembatan Merah Putih Presisi sepanjang 27,5 meter dan lebar 4 meter di Desa Gobah, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Selasa (17/3/2026). ***