SELATPANJANG, GORIAU.COM - Di musim penghujan seperti saat sekarang, jalan lintas antara Desa Kundur dengan Desa Kampung Balak Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, berbahaya untuk dilintasi. Pasalnya, jalan yang selalu digunakan untuk menuju Pekanbaru itu banjir dan sulit dilintasi.
Beberapa waktu lalu, penulis bersama salah seorang teman media melintasi jalan itu sewaktu pulang dari Pekanbaru. Meski tidak musim penghujan seperti saat ini, jalan itu tetap tergenang air. Dari Lukit menuju Kundur, setidaknya lebih 50 titik air, mulai dari yang dangkal, sampai yang dalam (di atas lutut, red).
Bahkan, ada satu titik jalur terpaksa diarahkan ke samping menggunakan jembatan kayu, karena kondisi tanah yang labil membuat lubang besar di tengah jalan. Lubang itu digenangi air dan membahayakan pengguna kendaraan roda dua.
Selain akses yang agak sulit dilintasi, sepanjang jalan yang membelah hutan belantara itu juga tidak didukung dengan akses komunikasi yang baik. Jaringan selular untuk berkomunikasi tidak ada di tengah hutan. Ini akan menyulitkan bagi pengendara jika mengalami ban bocor maupun kehabisan bahan bakar.
Tapi, di Meranti, tidak hanya jalan ini yang mengalami banjir. Beberapa titik, bahkan di Ibukota juga mengalami banjir akibat musim penghujan yang terjadi di penghujung tahun 2014 ini.
Bahkan, semacam sindiran halus ke pihak terkait pun sempat menghiasi media sosial seperti facebook. Dimana, di titik-titik banjir ini diedit oleh orang yang ahli komputer. Seperti jalan Kampung Balak dan Jalan Imam Bonjol Selatpanjang dilintasi Kapal Kargo KM Jelatik. Titik-titik banjir di kota pun tidak luput dari editan, seperti terparkirnya Ferry besar di Kantor PLN, timbulnya ikan Hiu di halaman warga, dan adanya warga yang menggunakan Jet Ski di Jalan Tebingtinggi Kota Selatpanjang.
(zal)