
NAGOYA - Delapan jam sehari. Setiap hari. Itulah waktu yang dihabiskan Mikhayla Shanum Caya untuk berlatih skateboard. Di usianya yang masih belia, ia sudah terbiasa membagi waktu antara sekolah dan latihan untuk bisa tampil di Olimpiade dan meraih kemenangan
“Biasanya setiap hari sih,” kata Mikhayla.
Ketika ditanya berapa lama ia berlatih dalam sehari, jawabannya singkat. “Biasanya 8 jam.” ujarnya saat ditemui di Rumah Indonesia.
Latihan tersebut dijalaninya bersamaan dengan sekolah. Sepulang sekolah, Mikhayla langsung kembali bermain skateboard hingga malam.
“Entah nanti latihan dari pagi sampai malam, terus pulang sekolah langsung main skate, habis itu malam baru istirahat. Kalau nggak, istirahat di skate park,” kata dia.
Bagi Mikhayla, rutinitas tersebut bukan sesuatu yang membuatnya berhenti mengejar skateboard. Ia memiliki alasan sederhana untuk terus konsisten. “Aku mau wujudin cita-citaku jadi Olimpian.” lanjut Mikhayla.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi salah satu panggung terbesar yang pernah dijalaninya. Setelah tampil, Mikhayla mengaku lega, tetapi pengalaman tersebut justru membuatnya semakin termotivasi untuk belajar.
“Rasanya kayak habis Asian Games sudah lega, tapi aku juga termotivasi untuk belajar lebih maksimal lagi,” katanya.
Salah satu pelajaran yang ia dapat adalah melihat langsung kemampuan para skateboarder dari negara lain. “Aku dapat pelajaran buat belajar trik. Oh, dia bisa trik ini, aku juga harus bisa,” ujar Mikhayla.
Tampil di panggung sebesar Asian Games tentu tidak membuatnya bebas dari rasa gugup. “Nervous pasti ada,” katanya.
Untuk menghilangkan rasa gugup, Mikhayla sempat melakukan hal yang tidak biasa. Saat sorotan kamera mengarah kepadanya, ia berjoget. “Joget-goget Brazil,” katanya sambil menjelaskan aksinya.
Bukan ritual khusus. Menurut Mikhayla, joget tersebut memang dilakukan untuk mengurangi rasa gugup. “Penghilang nervous,” ujarnya.
Kecintaan Mikhayla terhadap skateboard sendiri tumbuh sejak kecil. Sang ayah, yang pernah menjadi atlet skateboard, menjadi orang pertama yang mengenalkannya dengan olahraga tersebut. “Aku kayaknya baru naik skateboard dari bayi, cuma bisa jalannya mungkin umur 4 tahun, 5 tahun,” kata Mikhayla.
Awalnya, ia mengaku sempat bermain sambil ngambek. Namun, seiring bertambahnya usia, skateboard justru menjadi bagian dari kesehariannya. “Dulu mainnya agak-agak ngambek-ngambek, tapi makin tumbuh jadi makin konsisten,” ujarnya.
Jatuh dan terluka juga menjadi bagian dari perjalanan Mikhayla. Namun, hal itu tidak membuatnya ingin meninggalkan skateboard. “Nggak tahu, pengin aja main skate, biarin aja. Kayak luka-luka itu kan bagian dari proses ke profesional, ke Olimpiade,” katanya.
Dari latihan delapan jam sehari, sekolah, jatuh, luka, hingga pengalaman tampil di Asian Games, Mikhayla tahu perjalanan menuju Olimpiade masih panjang. Namun, ia sudah tahu apa yang ingin dituju. “Mimpi aku bisa menang di Olimpiade.” tutup Mikhayla. ***