
PEKANBARU, GORIAU.COM - Ekspos ekosistem Semenanjung Kampar, Riau semakin tak jelas, Ada mengatakan tetap terjaga dan ada juga yang blang sudah semakin rusak. Dan tadi siang, Senin (6/5/2013), PT Gemilang Cipta Nusantara (PT GCN) mengekspos kondisi ekosistem Semenanjung Kampar, Provinsi Riau, semakin rusak. Salah satu kawasan hutan gambut terbesar di Pulau Sumatera yang masih tersisa itu, semakin tergerus aksi perambahan.
Dian Novarina, Direktur PT Gemilang Cipta Nusantara (PT GCN) , kepada sejumlah wartawan di Pekanbaru, Senin (6/5/2013), mengungkapkan, setidaknya 5.000 hektar hutan kawasan itu sudah terdegradasi akibat penebangan yang masih berlangsung sampai sekarang ini.
Dalam sebuah video yang diperlihatkan Dian, di atas kawasan itu terlihat sedikitnya terdapat tiga kilang kayu di tengah hutan yang berada di sisi kanal-kanal gambut yang dibuat untuk sarana transportasi. Terlihat ribuan lembar papan sedang diletakkan di pinggir kanal, menunggu transportasi.
Pada kawasan lain, terdapat beberapa kawasan yang sudah terbuka akibat dibakar. Kawasan yang rusak, secara umum berada pada pada wilayah yang berdekatan dengan sungai dan kanal liar.
"Kerusakan sudah semakin menuju ke tengah-tengah kawasan hutan gambut," kata Dian.
Tiga tahun lalu, Kompas pernah terbang di atas kawasan yang sama. Hanya saja, pada saat itu, kerusakan akibat penebangan liar masih terkonsentrasi di pinggiran aliran Sungai Kampar. Kerusakan pun masih berkisar ratusan hektar. Dalam waktu tiga tahun, kegiatan ilegal itu, ternyata bukan semakin berkurang.
"Kami sebenarnya sudah melaporkan kegiatan illegal logging di daerah itu kepada aparat keamanan. Namun sampai sekarang belum ada tindakan pencegahan, apalagi penindakan," kata Dian.
Untuk menghindari kerusakan yang semakin besar, kata Dian, Kementerian Kehutanan telah memberikan izin kepada PT GCN untuk melakukan restorasi di kawasan itu.
"Kami akan memulai restorasi wilayah itu dalam waktu dekat. Restorasi ekosistem merupakan proses pemulihan unsur hayati dan non hayati pada ekosistem hutan produksi yang terdegradasi agar tercipta keseimbangan hayati dan ekosistemnya kembali," ujar Dian.
Perusahaan restorasi ekosistem tidak akan melakukan penebangan kayu alam di hutan konsesinya. Perusahaan lebih berupaya mengubah cara pandang masyarakat sekitar, terhadap potensi kayu dan mengalihkan pada produk non kayu.
Berdasarkan catatan Kompas, kawasan ekosistem Semenanjung Kampar, sebenarnya sudah ditetapkan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi bersama yang meliputi kawasan Tasik Besar Serkap seluas 513.000 hektar yang akan dimulai pada tahun 2011.
Surat keputusan pembentukan KPH itu sudah diserahkan kepada Gubernur Riau, selaku penanggungjawab, pada 23 September 2010. Berdasarkan keputusan itu, semestinya, kawasan itu akan dijaga secara bersama-sama dengan berbagai unsur pemerintah dan nonpemerintah yang diketuai oleh gubernur.
Pembentukan KPH Tasik Besar Serkap merupakan jawaban pemerintah atas polemik yang mencuat di Semenanjung Kampar waktu itu. Hal itu dilandasi protes beberapa organisasi nonpemerintah, yang dimotori organisasi internasional Greenpeace, menuntut penghentian eksploitasi hutan gambut di Semenanjung Kampar.
Sayangnya, KPH bentukan Menhut itu sampai sekarang tidak terlaksana. Tidak jelas dimana buntunya kesepakatan itu.
"Saya tidak tau bagaimana perkembangan KPH. Kami hanya melakukan restorasi di lahan seluas 20.000 hektar yang masih termasuk dalam kawasan Tasik Besar Serkap itu. Paling tidak, dengan adanya program restorasi ini, kerusakan ekosistem Semenanjung Kampar dapat diperkecil," kata Dian.
Penanggungjawab program restorasi ekosistem Semenanjung Kampar yang disebut juga dengan Restorasi Ekosistem Riau, Anthony Greer, mengatakan, kawasan Semenanjung Kampar merupakan salah satu ekosistem hutan rawa gambut terluas yang tersisa di Sumatera. Ekosistem ini merupakan satu kesatuan ekosistem rawa gambut yang memiliki kubah gambut (peat dome) sebagai daerah intinya.
"Kubah gambut memiliki peranan sangat penting bagi kelestarian tata air di seluruh ekosistem Semenanjung Kampar. Kawasan ini juga menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar, sehingga kondisi alamiah kubah harus dilindungi agar tidak mengalami kerusakan," kata Anthony.
Tasik Besar Serkap adalah satu dari dua kawasan gambut terbesar di Sumatera yang masih tersisa dan terbilang utuh. Satu kawasan lainnya, sekarang sudah dimasukkan dalam program internasional Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu yang terletak di Kabupaten Siak dan Bengkalis seluas 700.000 hektar.
Tasik Besar Serkap memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi yang terdiri dari flora dan fauna asli Sumatera. Di kawasan itu masih terdapat beberapa hewan dilindungi seperti Harimau Sumatera.
Upaya restorasi yang dilakukan PT CGN, sedikit berbeda dibandingkan dengan perusahaan restorasi ekosistem yang sebelumnya sudah ada di Indonesia. Perusahaan yang tergabung dalam grup Raja Garuda Emas atau APRIL ini, tidak tergantung pada donatur, melainkan mengupayakan dana sendiri.
Pada tahun pertama, kata Anthony, perusahaan akan menyediakan dana sebesar 3 juta dollar AS. Pada tahun kedua 2 juta dollar dan tahun ke-3 sampai ke-10, masing-masing 1,5 juta dollar AS.
"Pengembalian modal itu belum kami pikirkan. Yang jelas upaya restorasi ini harus dilakukan dahulu. Pada tahap ini, 100 persen tidak mengejar profit. 50 persen konservasi dan 50 persen sosial. Kami baru mendapat hasil apabila suatu saat nanti, skema perdagangan karbon dunia diberlakukan," ujar Anthony.
Meski tidak menyebutkan alasan, pendanaan restorasi ini lebih ditujukan sebagai balas budi grup RGE atas beroperasinya pabrik kertas PT RAPP di sekitar kawasan itu. ***