PEKANBARU, GORIAU.COM - Masyarakat Riau punya berbagai cara dalam mengekspresikan 'penderitaan', baik dari bencana asap, maupun pemadaman listrik bergilir oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ekspresi kekesalan tidak hanya ditunjukkan dengan aksi massa dan demontsrasi, melainkan juga dengan meme.

Bila waktu lalu banyak muncul meme sindiran yang menyinggung tak tuntasnya bencana asap yang terjadi berkepanjangan di Riau, kali ini meme 'ngakak' hadir lagi. Tampilannya simple, namun kata-kata yang dijabarkan sangat mewakili penderitaan warga Riau, khususnya Pekanbaru.

"Puk Ame-ame Belalang Kupu-kupu, Siang Ngisap Asap Kalau Malam Mati Lampu," begitu bunyi meme yang ramai dijadikan display picture (DP) pada kontak Blackberry warga Pekanbaru. Adapun itu adalah petikan lagu anak-anak yang sengaja 'diplesetkan' menjadi sindiran, betapa susahnya hidup warga Pekanbaru.

Tak hanya bencana asap yang membuat puluhan ribu warga Riau terserang penyakit, kini masyarakat harus dihadapkan dengan pemadaman listrik bergilir yang sudah rutin terjadi sejak beberapa hari ini. Pemadaman itu berdurasi dua jam dan dilakukan PLN dua kali sehari. "Kayak minum obat aja," celetuk Beni, warga Pekanbaru.

Padahal, pemerintah daerah Riau sudah mengintruksikan warganya agar mengurangi aktivitas di luar ruangan, guna menghindari paparan langsung asap. Namun apadaya, ketika di dalam rumah pun warga akhirnya harus bertahan dari 'serangan' pemadaman bergilir PLN.

"Disuruh berkurung di rumah, tapi listrik padam, tu pengap aja, mau keluar ada asap. Otomatis AC dan kipas angin (buat usir asap) tak jalan. Tetap aja kena paparlah, soalnya asap masuk ke dalam rumah. Emanglah nasib warga Pekanbaru begini," tandas warga lainnya, Dodi Ferdian.

Hal itu hanya bagian kecil potret warga yang 'sengsara' akibat bencana tersebut. Belum lagi kalau dihitung biaya operasional pemilik usaha yang terpaksa menyalakan mesin Genset untuk penerangan sementara. "Mana ada yang mau belanja kalau gelap-gelapan, emangnya kuburan. Terpaksa nyalakan genset, itu kan butuh biaya lagi," ucap Ira, yang memiliki usaha baby shop.

Dampak lainnya, Riau sudah mulai 'terisolasi', lantaran Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, lumpuh karena pesawat tak ada yang berani terbang dan mendarat akibat pekatnya asap di runway bandara. Praktis jalur transportasi udara mati suri. ***