JAKARTA – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Laksamana TNI (Purn) Soleman B Ponto yakin bahwa polisi sudah tahu pembunuh Brigadir Nofriansyah Yoshua alias Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, pada 8 Juli lalu.

Dikutip dari Poskota.co.id, pembunuh Brigadir J itu, menurut Soleman bisa diketahui dari pistol glock yang ditemukan di lokasi yang diduga digunakan menembak Brigadir J.

''Kemarin polisi bergerak lagi ke penembakan dengan pistol glock. Sebenarnya, saya yakin polisi ini sudah tahu pembunuhnya. Pasti, saya yakin tahu. Dari mana, polisi sudah tahu, bahwa di situ ada pistol glock. Setiap pistol itu punya nama, artinya punya nomor,'' kata Soleman B Ponto di podcast Refly Harun, Rabu (19/7/2022).

Menurut dia, dari nomor pistol itu bisa ditelusuri, dan diketahui siapa pemegang, bahkan siapa yang membawa hingga bisa sampai di lokasi tersebut.

''Dari nomor itu sudah tahu siapa pemegang pistol itu. Pasti polisi sudah tahu itu. Polisi begiu pegang pistol itu, langsung lihat nomor. Zaman sekarang nomor itu langsung klik langsung ketemu. Nomor ini pemegangnya siapa, tinggal lihat saja. Apakah nomor ini punya saudara E, atau siapa, nggak usah diperbincangkan, mengapa pistol ini di saudara E,'' katanya.

Soleman B Ponto menyebut itu pistol raja-raja. ''Kalau saya bilang ini pistol raja-raja. Ya sudahlah, ada nggak nama raja itu di situ,'' ujarnya.

Soal nomor pistol dan pemegangnya, ia lantas memberikan contohnya, pistol yang ia miliki. Pistol miliknya itu  tercatat. Sebagai pensiunan TNI AL dia menjelaskan, kalau di AL lebih parah, pistol tercatat, peluru dihitung, kalau dikembalikan, berapa yang kembali.

''Jadi, kalau kita menguak kasus ini, nggak usah jauh-jauh, ikuti alur pistol ini. Ada dua pistol itu, namanya siapa, datang saja ke gudang senjata, Gudang senjata pasti sudah komputerisasi, tulis nomornya, akan keluar namanya,'' jelasnya.

Dia pun membuka kemungkinan lain, kalau ternyata dalam data di komputer gudang senjata, pistol itu tidak tercatat, tidak muncul di komputer gudang senjata. 

''Kalau nggak keluar namanya, ini pertanyaan lagi, siapa yang memasukkan pistol itu. Sepanjang pistol itu masuk secara sah, dipegang secara sah, pasti punya kartu pemilik senjata, pasti punya. Dari situ pasti ketemu. Itu ibaratnya STNK mobil,'' katanya.

Dengan bekal nomor dan segala data pistol glock tersebut, yang saat itu ditemukan di lokasi pembunuhan Brigadir J, menurut dia gampang untuk menelusuri pembunuhan itu.

''Jadi kalau mau mengumumkan, gampang sekali kok, lihat saja siapa yang pegang pistol itu,'' ucapnya.

Mencium Hal Lain

Kalau sekarang polisi belum  juga mengumumkan tersangkanya, Soleman mencium hal lain, yakni polisi hitung-hitungan untung dan rugi,

''Tapi sekarang rasanya, polisi tinggal hitung-hitung, kalau diumumkan siapa rugi, siapa yang dirugikan.  Atau siapa yang terasa rugi. Itu saja,'' tegasnya.

Soleman mengingatkan, nama Polri tidak akan runtuh kalau mengumumkan pelaku pembunuhan atau penembak Brigadir J, malah sebaliknya Polri akan mendapat kepercayaan dari rakyat.

''Bagi kita rakyat, polisi ini tidak akan runtuh apabila pembunuhnya berasal dari dalam polisi iu sendiri. Malah akan mendapat kepercayaan kalau mau membuka tabir ini seterang-terangnya,'' ungkap pensiunan perwira tinggi TNI AL itu.

Tak Perlu Berlama-lama

Soleman mengingatkan polisi tidak agar tidak berlama-lama berhitung, sebab makin lama makin tidak baik, makin menampakkan adanya pembohongan, menambah deret pembohongan, untuk menentukan pembohongan.

''Sehingga tidak perlu berlama-lama untuk menghitung-hitung. Semakin menghitung, semakin lama maka semakin kelihatan itu pembohongan. Kalau istilah polisi, sekali pembohongan akan terjadi pembohongan-pembohongan selanjutnya untuk menentukan pembohongan. Kan itu kalau ilmunya dari polisi,'' ungkap mantan Kabais tersebut.

Lanjut Soleman, jangan dibikin narasi-narasi membuat tanda tanya. Misalkan, Kapolres Jaksel Kombes Budhi Herdi menjelaskan, pada  saat tembak menembak, Kadiv Propam tidak ada di rumah.

''Lha ngapain dibilang tidak ada di rumah, hal itu kan menarik perhatian, seperti itu kenapa disampaikan,'' ujarnya.

Sambung Soleman, lantas disebut Kadiv Propam tidak ada di rumah karena sedang pergi untuk PCR. ''Nah, ini gampang sekali, tanya sopirnya, PCR-nya dimana, tempatnya di mana, benar nggak di situ jam sekian,'' ujarnya.

''Tapi, nah ini melanggar kebiasaan ini tadi. Biasanya raja-raja seperti Kadiv Propam rasa-rasanya kalau PCR, kalau PCR-nya dipanggil, kamu sini, aku periksa. Zaman aku kan Kabais begitu, mungkin beliau lain,'' ucapnya.

Menurut dia, waktu dirinya menjadi Kabais TNI, waktu tes kesehatan itu tidak pergi ke rumah sakit, melainkan tenaga kesehatan TNI diminta datang kepadanya. ''Hayo, pergi ke sini kamu, aku punya darah ini, periksa,'' ungkap Soleman.

Soal perginya Kadiv Propam ke tempat tes PCR, menurut Soleman justru melemahkan polisi, karena membuka peluang untuk bertanya-tanya. Kalau dicocokkan, menurut Soleman Ponto, justru membuka tabir sendiri setelah dilakukan pengecekan. 

''Lha kalau PCR kan, periksa ini. Lha PCR kan bisa saja panggil, ke sini, tapi katanya pergi ke sana. Nah, ini kan buka tabir lagi, gampang, buka tabir sendiri namanya,'' ujarnya.

''Kalau Kadiv Propam yang datang ke tempat PCR, bisa ditanyakan, di sana bersama siapa? Ada nggak di sana? Dengan siapa datangnya? Ajudan dua kok kenapa ditinggal, ada berapa ajudan,'' tambahnya.

"Kalau pergi kenapa ajudan  ditinggal. Kalau saya dulu ajudan ikut terus, lha kenapa ini ajudan dua kok ditinggal. Mungkin punya lebih dari tiga ajudan, saya nggak tahu. Nah ini menimbulkan narasi-narasi membuat masyarakat itu ramai, ini mau ke mana perginya,'' tukuknya.***