PEKANBARU – Ekonom Universitas Riau (Unri) Dahlan Tampubolon menyarankan semua kalangan di Tanah Air, termasuk Provinsi Riau, untuk memasang kewaspadaan tinggi, menyusul melonjak tajamnya harga minyak mentah global lebih 7 persen sebagai dampak tragedi serangan terhadap tiga kapal tanker di kawasan vital Selat Hormuz.

Hal ini dikemukakan Dahlan Tampubolon dalam analisisnya terkait situasi terkini pasca meroketnya harga minyak mentah global dampak konflik bersenjata di Selat Hormuz."Satu sisi, kenaikan (harga minyak mentah global) ini memberikan nafas segar bagi pundi-pundi daerah, namun di sisi lain, ia membawa bayang-bayang inflasi yang bisa menghimpit daya beli rakyat marhaen jika tidak diantisipasi dengan cermat," kata Dahlan, Selasa (3/3/2026) pagi.

Menurut hemat Dahlan, dari kacamata pertumbuhan ekonomi, Riau berpotensi mencatatkan angka yang lebih gemilang di atas kertas. Sebagai salah satu pemain utama minyak dan gas di Indonesia, kenaikan harga komoditas global secara langsung akan mengerek nilai ekspor Riau. Pertumbuhan ekonomi yang disokong sektor pertambangan dan penggalian akan terlihat lebih mantap.

"Sawit juga ikut nebeng tren positif ini. Hubungan korelasi antara harga minyak mentah dan harga minyak nabati global sangatlah erat. Sewaktu energi fosil mahal, permintaan terhadap biofuel biasanya akan meningkat. Berpotensi mendorong harga tandan buah segar ke level yang lebih enak untuk petani. Perputaran uang di tingkat masyarakat pun tetap kencang, kayak Riau dapat bonus dari gejolak perdagangan yang terjadi di belahan dunia lain," ungkapnya.

Sementara sisi gelapnya dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah ini adalah ancaman inflasi yang sangat nyata. Riau masih sangat bergantung pada jalur distribusi logistik untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kalau harga energi global terus meroket, kata Dahlan, biaya transportasi dan logistik akan ikut melambung tinggi. Inflasi volatile foods atau bahan pangan bergejolak bisa menjadi momok yang menakutkan, di mana harga cabai atau bawang bisa makin pedas akibat ongkos angkut yang mahal, bukan karena kelangkaan barang.

"Daya beli masyarakat bisa saja tergerus kalau kenaikan pendapatan dari sektor sawit tidak sebanding dengan laju inflasi harian. Gitu pun petani sawit merasa kaya mendadak, tapi kita di kota yang tidak punya ladang sawit akan merasakan tekanan ekonomi yang lebih berat. Kesenjangan ini perlu diwaspadai agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi supaya betul-betul dirasakan manfaatnya secara merata tanpa ada yang tertinggal," papar Dahlan.

Lebih jauh dia mengatakan, APBD Riau sendiri kemungkinan akan mendapat durian runtuh dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas. Dengan asumsi harga minyak dunia jauh melampaui asumsi makro dalam APBN, maka jatah yang mengalir ke kas daerah Riau kemungkinan besar akan mengalami penyesuaian positif. "Ini adalah peluang emas bagi Pemerintah Provinsi untuk memperkuat cadangan fiskal atau mempercepat pembangunan infrastruktur strategis yang selama ini terkendala biaya," ujarnya.

Namun demikian, lanjut Dahlan, meski pendapatan daerah naik, pengelolaan APBD harus tetap waspada terhadap risiko eskalasi biaya. Kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi juga berarti biaya operasional pemerintah dan proyek-proyek konstruksi daerah akan membengkak. Risiko cost overrun pada proyek infrastruktur menjadi ancaman bagi efisiensi belanja. Pemerintah daerah dituntut untuk lebih taktis dalam mengalokasikan anggaran, terutama untuk menyediakan bantalan sosial bagi warga yang paling terdampak oleh kenaikan harga-harga.

"Kita harus pandai-pandai memanfaatkan momentum ini dengan tetap menjaga kewaspadaan tinggi. Ketahanan ekonomi yang sudah terbentuk melalui diversifikasi pasar dan hilirisasi industri harus terus dipacu agar kita tidak hanya kenyang saat harga komoditas naik, tapi juga tetap kokoh saat harga jatuh," kata Dahlan.

Untuk diketahui, aksi serangan terhadap tiga kapal tanker di kawasan vital Selat Hormuz merupakan rentetan respons keras Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (28/2/2026). Akibatnya, harga minyak mentah global melonjak tajam lebih dari 7 persen.

Lonjakan harga langsung menghantam pasar Asia di awal pekan. Perdagangan Senin (2/3/2026) pagi mencatat harga minyak mentah Brent melesat ke level US$78,25 per barel. Minyak mentah AS (*WTI*) turut merangkak naik 7,3 persen menembus angka US$71,93. Sejumlah analis bahkan memprediksi harga berpotensi menyentuh US$100 per barel jika ketegangan militer tidak kunjung mereda.Kondisi keamanan yang memanas membuat jalur logistik energi dunia lumpuh total.

Mengingat kawasan ini menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, dampaknya meluas dengan cepat. Platform pelacakan Kpler mendeteksi sedikitnya 150 kapal tanker kini tertahan dan memilih berlabuh di luar selat akibat tingginya risiko serta lonjakan tarif asuransi.

Raksasa pelayaran asal Denmark, Maersk, terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menghentikan seluruh rute melalui Selat Bab el-Mandeb serta Terusan Suez. Kapal-kapal kargo tersebut kini dialihkan memutar jauh melewati Tanjung Harapan di ujung benua Afrika. ***