BENGKALIS, GORIAU.COM - Berbagai strategi dan cara akan diterapkan para kandidat dalam upaya memenangi ajang pertarungan di Pilgub (Pemilihan Gubernur) Riau 2013, yang puncaknya akan digelar pada Rabu (4/9) mendatang. Termasuk melakukan ''serangan fajar'' yaitu membagi-bagikan uang sebelum para pemilih akan menggunakan hak pilihnya.

Ir HM Lukman Edy M.Si, salah seorang kandidat gubernur, secara eksplisit tidak melarang para pemilih melayani para pelaku serangan fajar. Tokoh yang akrab disapa dengan LE ini hanya mengingatkan satu hal: jangan karena tergiur dengan pemberian uang yang nilai nominalnya mungkin tidak seberapa, lalu ada pihak yang dengan sengaja mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Ketika berdialog dengan masyarakat Desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Senin (26/8/2013), LE mengatakan ajang Pilgub Riau 2013 merupakan momen politik yang hanya berlangsung sekali lima tahun. Makanya, menurut LE, anggota masyarakat dituntut memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menggunakan hak pilih yang diabdikan untuk kepentingan jangka panjang dengan spektrum yang luas.

''Ini momen yang merupakan saat masyarakat Riau diberi peluang untuk menentukan nasibnya sendiri," kata calon gubernur yang berpasangan dengan calon wakil gubernur, Suryadi Khusaini itu. Kalau pilihan dijatuhkan hanya karena pertimbangan jangka pendek, seperti tergiur money politics, LE cemas anggota masyarakat Riau seperti ''menggadaikan'' kepentingan perbaikan masa depannya sendiri.

'''Pelajarilah secara saksama semua kandidat yang bertarung. Analisis rekam jejak (track record) mereka, dan dalami visi-misi yang menjadi program mereka," ia mengingatkan. Semua kandidat diyakini memiliki program kerja, baik untuk kepentingan daerah maupun masyarakat. "Tapi pilihlah kandidat yang memiliki program yang jelas dan terukur, yang bisa dimintai pertanggungjawabannya, baik secara moral maupun hukum," tandasnya.

Semua kandidat pasti mengusung program akan mensejahterakan seluruh masyarakat Riau, kata mantan menteri termuda itu. Tapi, apa ukuran dan patokan kesejahteraan rakyat yang ingin dicapai, dan apa langkah dan upaya-upaya yang diperlukan untuk itu, "Hal-hal seperti ini yang harus didalami dan dipelajari. Makanya, saya menyarankan carilah kandidat yang memiliki program yang jelas dan terukur."

LE sendiri mengusung empat program yang terangkum ke dalam 4 Pilar Plus, bukan tanpa alasan. Dijelaskan, selain berupaya menyusun program yang jelas dan terukur, yang bisa dimintai pertanggungjawabannya secara moral dan hukum; "Agar program yang kami buat gampang diingat, dan kelak gampang pula direalisasikan." Sejalan dengan itu, masyarakat juga akan gampang mengingat program-program pasangan yang akrab disebut Lurus ini.

Ia mengaku heran dengan sejumlah kandidat lain, yang sampai menyusun 20 program kerja. "Jangankan orang kebanyakan, sang kandidat itu sendiri mungkin tidak hafal dengan program yang ia susun," katanya.

Berbeda dengan 4 Pilar Plus yang ia miliki, menurut LE, relatif gampang diingat, dan relatif gampang pula masyarakat menuntut pertanggungjawabannnya kalau kelak terbukti tidak direalisasikan.

Tapi yang pasti, menurut LE, program 4 Pilar Plusnya lebih diabdikan untuk kepentingan daerah dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Yaitu, bantuan dana Rp2 miliar/desa/tahun, lahan kebun 2 hektar untuk masing-masing KK (kepala keluarga) miskin, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan kesarjanaan gratis bagi semua anak Riau, dan pemekaran daerah sehingga akan menjadi 20 kabupaten/kota.

"Kalau kelak kami terpilih, dipastikan lima tahun masa jabatan kami tidak akan pernah membangun kantor pemerintahan yang baru, tidak akan pernah melakukan pengadaan mobil dinas baru untuk para pejabat," tandas LE. Karena sebagian besar dana di APBD Riau akan diaokasikan untuk sejumlah program yang memihak kepentingan masyarakat banyak, "Mohon maaf, para pejabat mungkin akan terpaksa 'berpuasa'," katanya. (rls)