PEKANBARU – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Provinsi Riau menyoroti ancaman serius dinamika geopolitik global terhadap ketahanan energi dan kelancaran pembangunan infrastruktur nasional. Kondisi ini menjadi fokus utama dalam diskusi strategis bertajuk Executive Talk yang digelar di Cititel Hotel Pekanbaru, Jumat (13/3/2026).

Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) periode 2025–2029, Insannul Kamil, mengingatkan bahwa sektor konstruksi di Tanah Air masih sangat bergantung pada material dan energi luar negeri. Berdasarkan catatan, nilai impor Indonesia mencapai USD 233,65 miliar pada 2024 yang didominasi oleh sektor energi, mesin berat, dan bahan baku industri seperti baja.

"Sekitar 35 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz di Timur Tengah. Setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global yang berdampak langsung pada biaya pembangunan infrastruktur jalan tol, pelabuhan, hingga bendungan," jelas Insannul Kamil.

Langkah penyelamatan mendesak dilakukan, mulai dari diversifikasi menuju energi baru terbarukan, penguatan cadangan strategis, hingga pengembangan industri material domestik. Kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, dan organisasi profesi menjadi kunci utama dalam membangun sistem ketahanan infrastruktur.

Ketua PII Wilayah Riau, Ulul Azmi, menegaskan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah secara langsung memengaruhi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Rantai pasok material konstruksi dan biaya operasional proyek di daerah dipastikan ikut meroket jika harga energi dunia melonjak tajam.

"Ketika konflik terjadi di kawasan strategis yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, dampaknya sangat dirasakan. Hal ini memengaruhi harga energi global, rantai pasok material konstruksi, hingga biaya pembangunan," ujar Ulul Azmi, Sabtu (14/3/2026).

Provinsi Riau yang berstatus sebagai salah satu lumbung energi nasional menuntut peran aktif dan kompetensi tinggi dari para insinyur lokal. Saat ini, PII Riau mencatat keanggotaan lebih dari 2.000 orang yang tersebar di 10 cabang pada 12 kabupaten atau kota. Sekitar 30 persen anggota telah tersertifikasi sebagai Insinyur Profesional, bahkan 30 orang di antaranya sukses meraih pengakuan sebagai ASEAN Engineer.

Dewan Pembina PII Riau sekaligus Ketua Umum DPP Asosiasi Pelaksana Konstruksi Nasional (ASPEKNAS), Aswandi, memberikan apresiasi atas progres kepengurusan periode 2024–2027. Berbagai program nyata seperti kampanye Green Engineer lewat aksi penanaman 1.000 pohon membuktikan kepedulian profesi ini terhadap lingkungan berkelanjutan.

"Jika dibandingkan dengan beberapa wilayah lain, PII Riau menunjukkan dinamika organisasi yang sangat baik melalui inovasi program dan kolaborasi lintas sektor yang menunjukkan komitmen kuat pengurus wilayah," paparnya.

Agenda silaturahmi yang dirangkaikan dengan peluncuran buku dan buka puasa bersama ini turut dihadiri Anggota LPJK, Muhammad Ikhsan, serta Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau, Yohanis Tulak Todingrara. Kegiatan ditutup dengan penyampaian tausiyah oleh Asep Ajidin yang mengingatkan seluruh anggota untuk terus menjaga integritas dan amanah moral dalam menjalankan profesi di tengah masyarakat. ***