SELATPANJANG, GORIAU.COM - Rusman seorang bayi laki-laki asal Dusun I Desa Tanjung Pisang Kecamatan Tasik Putri Puyu hanya mampu bertahan hidup selama 10 bulan. Pasalnya di usia nya yang belum genap satu tahun itu, Rusman harus kembali ke pangkuan sang Illahi setelah penyakit gizi buruk yang diderita menghentikan detak jantungnya.
Rusman meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bengkalis,Minggu (15/6/2014) malam. Akibat gizi buruk itu pulalah daya tahan tubuhnya melemah kemudian Ia menderita infeksi sekunder paru-paru dan akhirnya infeksi paru-paru itu menghentikan nafasnya.
Astuti selaku orang tua Rusman ketika dihubungi wartawan melalui sambungan ponselnya menceritakan bahwa Ia sendiri tidak mengerti tentang gizi buruk itu apa.
Astuti juga menceritakan selama hamil hingga melahirkan Ia tidak merasakan aneh terhadap kandungannya. Hanya saja, saat lahir berat badan anaknya hanya 2.3 Kg dan mata anaknya tidak bisa dibuka. Kemudian, Setelah diberikan salep oleh bidan baru terbuka.
"Saya mengasuh anak saya seperti anak saya yang lainnya di saat bayi. Saya juga tidak pernah melewatkan jadwal rutin untuk ke posyandu setiap bulannya," ujarnya menjawab wartawan.
Meski sebelumnya keadaan baik-baik saja, sejak sepekan lalu ada hal-hal aneh kepada anak ke tujuhnya itu. Kata Astuti, anak nya kembali sakit, dan dari saluran buang air besarnya mengeluarkan darah setelah diberi obat sirup oleh bidan desa.
Tak kuasa menahan kesedihan melihat anaknya seperti itu, bersama Suami yang menjabat sebagai Kepala Dusun, Khairul, pihaknya langsung membawa sang anak ke Puskesmas Teluk Belitung Kecamatan Merbau. Disana setelah dicek anaknya langsung dirawat dan dianjurkan untuk rawat inap.
Astuti juga menuturkan bahwa dokter yang berada di Puskesmas Belitung sempat kesal sama mereka (keluarga dan bidan desa, red) karena kenapa baru sekarang membawa Rusman ke Puskesmas.
"Dokter di Belitung meminta kami agar anak kami dibawa ke Rumah Sakit untuk dirujuk," tambahnya dengan nada sedih.
Pihak keluarga sempat merasa gembira setelah Rusman dirawat sekitar empat hari di Puskesmas. Pasalnya Rusman sudah bisa minum susu, namun dokter tetap saja meminta keluarga membawa Rusman ke RSUD untuk mendapatkan penanganan lebih maksimal.
Setelah hari kelima, diceritakan Astuti pula, baru mereka mau anaknya dirujuk ke RSUD Bengkalis dengan didampingi Dokter dan keluarga.
"Saat anak kami sudah diimpus dan dimasukkan ke ruang rawat inap itulah tiba-tiba sudah tidak ada lagi (meninggal dunia, red). Kami kecewa karena kenapa sudah lama sekali baru ditangani secara maksimal," ujarnya dengan nada sedih.
Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, dr Misri Hasanto didampingi Kabid Promosi dan Jaminan Kesehatan, Muhammad Sardi saat dikonfirmasi wartawan, Senin (16/6/2014) di kantornya membenarkan bahwa Rusman meninggal dunia akibat menderita gizi buruk.
Kata Misri pula, berdasarkan data yang mereka miliki tentang Rusman, Rusman menderita infeksi sekunder di paru-paru. Selain itu, Rusman juga pernah menderita cacingan.
"Akibat gizi buruk itu, daya tahan tubuh lemah dan mudah terserang penyakit, seperti infeksi sekunder paru-paru itu," kata Misri menjelaskan.
Misri juga menjelaskan bahwa, sejak lahir Rusman memang sudah bermasalah, dimana berat badannya hanya 2,3 Kg, padahal idealnya berat anak saat lahir harus 2,5 kg lebih.
Melihat kondisi Rusman seperti itu, tambah Misri pula, melalui bidan Desa mereka sudah melakukan pemberian susu kepada si Rusman.
"Penanganan terhadap anak tersebut sudah dilakukan sejak kelahiran dulu di tingkat Bidan Desa. Namun demikian, dari kejadian tersebut akan menjadi bahan intropeksi diri kita, agar kedepan lebih maksimal lagi dalam pengelolaan program gizi buruk kepada seluruh masyarakat di wilayah kepulauan Meranti. Sehingga nantinya gizi buruk tidak terulang kembali," kata Misri yang juga mengaku kalau penyakit gizi buruk itu baru pertama kali terjadi di Meranti.
Kemudian ketika ditanya sebagai langkah antisipasi dinas agar kedepan tidak terulang kasus gizi buruk di kabupaten termuda se Riau ini, Misri mengaku pihak mereka akan melacak kemungkinan masyarakat yang lain ada yang kena penyakit yang sama.
Selain itu, mereka juga mengimbau kepada seluruh kades dan lurah, agar mengaktifkan desa siaga. Kemudian mereka juga akan memanggil pengelola program gizi se kabupaten untuk deteksi dini terhadap gizi ini agar tidak terjadi atau kecolongan lagi.
"Selain itu, kita juga mengimbau agar seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS, red)," tuturnya pula.
(zal)