
SELATPANJANG - Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti memanggil hearing Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (DisperindagkopUKM). Dalam hearing tersebut, setidaknya ada tiga kesimpulan tegas yang diberikan komisi agar diterapkan Disperindag.
Pantauan GoRiau, dalam hearing itu terlihat hadir Musdar Mustafa, Darsini, Tartib, Dedi Putra, Taufiek, dan Asmawi. Sementara pihak Disperindag dihadiri langsung Kepala Dinas Syamsuar Ramli beserta beberapa anggotanya.
Saat hearing Komisi B mempertanyakan tentang harga barang dipasaran yang terkesan tidak singkron dengan harga yang diserahkan Disperindag ke legislatif. Selain itu, mereka juga mempertanyakan stok sembako yang sempat habis sehingga harga tinggi terutama gula.
Kemudian, permasalahan permasalahan BBM bersubsidi yang tak kunjung sesuai aturan juga menjadi pembahasan siang itu.
Sempat dijawab Syamsuar Ramli beberapa pertanyaan yang diajukan wakil rakyat itu. Namun, wakil Rakyat Meranti menilai sejauh ini keberadaan Disperindag belum maksimal terutama belum bisanya menstabilkan harga sembako di pasaran.
Sehingga, dari hasil hearing ini, Komisi B DPRD membuat tiga kesimpulan tegas agar diterapkan Disperindag Meranti.
Adapun kesimpulan itu antara lain Disperindag harus bisa menetapkan harga yang sama di pasar dan mini market, BBM di tingkat pengecer. Disperindag harus bisa memastikan harga ditetapkan itu dapat dirasakan masyarakat banyak, dan Disperindag harus membuat kebijakan untuk memudahkan masy dapat info sama terhadap harga kebutuhan sembako, di tempat usaha masing-masing.
"Itu lah guna Disperindag, mereka harus bisa menstabilkan dan menyamakan harga. Terutama sembako, itukan kewajiban pemerintah," kata Asmawi.
"Sejauh ini pantauan kita Disperindag tidak punya formula dalam menetapkan harga," ujar Ketua Komisi B Dedi Putra.
"Disperindag harus meletakkan harga sembako apakah dituliskan di kertas atau seperti apa di minimarket dan swalayan. Ini kita awasi terus, kalau tidak dilaksanakan kita panggil lagi," tambah Dedi.
Dedi juga heran mengapa harga sembako yang dijual di toko-toko harganya berbeda. Padahal dibawa dari tempat yang sama. ***