BADAI pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia tahun 2020 lalu sempat menjadi mimpi buruk bagi banyak pelaku usaha. Banyak dari mereka yang terpaksa gulung tikar akibat perputaran anggaran operasional yang mandek. Namun, bagi Bambang Sugeng, momen krisis tersebut justru menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya. Pria bersuara lembut dengan logat khas Jawa ini nekat banting setir merintis budidaya lebah madu dari nol demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga, hingga kini sukses memetik hasil manis dari keberaniannya.

Awalnya, Sugeng mengaku sempat ragu dengan prospek usaha lebah madu di tengah situasi yang serba tidak pasti. Namun, melihat lonjakan permintaan masyarakat terhadap produk penambah imunitas, terutama madu sialang dari lebah liar, ia menyadari adanya peluang pasar yang sangat luas. Rasa penasaran itu mendorongnya untuk melakukan investasi waktu dan tenaga dengan berguru hingga ke Danau Lamo, Jambi, demi melihat langsung bagaimana peternak lokal mampu memanen hingga satu ton madu per bulan.

"Awalnya kami belum tahu seperti apa prospeknya. Tapi saat Covid-19 saya melihat permintaan madu meningkat, terutama madu sialang dari lebah liar. Dari situ saya berpikir budidaya lebah bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan madu masyarakat," kenang Sugeng.

Berkolaborasi Menjaga Hutan dan Nilai Aset

Sekembalinya dari Jambi dengan tekad bulat, Sugeng mulai merintis usahanya secara mandiri di lokasi seadanya. Titik terang untuk pengembangan bisnis miliknya muncul tahun 2021. Saat itu, sebuah perusahaan konsesi memberikan akses bagi kelompok peternaknya untuk memanfaatkan area tanaman akasia produktif di Kecamatan Pinang Sebatang Barat, Kabupaten Siak. Melimpahnya nektar bunga akasia membuat perkembangan koloni lebahnya melesat pesat. Kini, ia mampu mengelola 300 kotak sarang lebah dengan perputaran omzet bulanan mencapai Rp12 juta hingga Rp18 juta.

Akses di area konsesi tersebut tidak datang cuma-cuma, melainkan membawa misi pelestarian lingkungan. Sugeng beserta kelompok peternaknya mengikat perjanjian kerja sama resmi yang mengharuskan mereka berintegrasi menjadi bagian dari Masyarakat Peduli Api (MPA). Setiap hari, sembari mengecek koloni lebah yang kini menjadi nilai asset berharganya, mereka mengemban kewajiban memantau kondisi kawasan. Mereka rutin melaporkan setiap potensi titik api maupun aktivitas mencurigakan demi menjaga keamanan ekosistem hutan dari bencana kebakaran, tanpa harus membebani fasilitas publik yang ada di sekitarnya.

"Kalau hutan terbakar, lebah kehilangan sumber pakan. Jadi menjaga hutan sama dengan menjaga usaha kami," tegasnya.

Berperang Melawan Beruang Tanpa Asuransi

Perjalanan manis mengumpulkan pundi-pundi rupiah di tengah rindangnya pohon akasia tentu tidak lepas dari ancaman. Risiko kegagalan panen selalu mengintai dari berbagai serangan hama alami. Mulai dari koloni lebah penyengat atau tabuhan yang sering membunuh lebah ternak, burung pemakan lebah, infeksi jamur, kutu pada sarang, hingga faktor cuaca musim hujan yang menurunkan produksi nektar. Di tengah minimnya ketersediaan layanan digital di pedalaman hutan untuk memantau pergerakan hama secara otomatis, ia harus melakukan pengawasan secara manual.

Dari sekian banyak gangguan ekosistem tersebut, ancaman paling ganas datang dari kawanan beruang hitam liar. Mamalia buas ini kerap menyatroni area peternakan pada malam hari. Mengingat usaha ini berjalan murni dari alam tanpa jaminan asuransi komersial jika terjadi kerusakan fisik, serangan beruang menjadi kerugian yang teramat besar. Beruang-beruang tersebut tidak hanya mengincar madu, tetapi juga mengamuk dan merusak infrastruktur kotak sarang hingga menyebabkan kematian koloni lebah dalam jumlah masif.

"Yang parah itu beruang mas, biasanya muncul malam hari. Kalau beruang itu sebelum mengambil madu, sarang madu dari kotak-kotak itu ditarik-tariknya, lalu pergi. Nanti muncul lagi ditarik-tariknya lagi sebelum lebah-lebah pergi," ungkapnya.

Kerusakan yang ditimbulkan sangat fatal. Bukan hanya sekedar kotak yang hancur, ribuan lebah di dalamnya juga ikut mati karena tertimpa dan terjepit papan-papan kayu di area budidaya.

"Itu kalau dibiarkan satu malam bisa berapa kotak habis mas," urainya. ***