PEKANBARU - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Decymus mengatakan, bahwa perekonomian Riau tumbuh positif namun mengalami perlambatan. Di mana, pada triwulan III 2019, pertumbuhan ekonomi Riau tercatat sebesar 2,74 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan II 2019 yang sebesar 2,80 persen (yoy).

"Perlambatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Nasional dan Sumatera yang masing-masing tumbuh melambat dari 5,05 persen (yoy) dan 4,62 persen (yoy) pada triwulan II 2019 menjadi 5,02 persen (yoy) dan 4,49 persen (yoy) pada triwulan III 2019," kata Decymus dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia yang dilaksanakan di lantai III BI Riau, Kamis (12/12/2019).

Dari sisi penggunaan, lanjut Decymus, melambatnya pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan III 2019 bersumber dari melambatnya konsumsi rumah tangga, LNPRT dan pemerintah serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan kontraksi impor yang lebih dalam.

"Perlambatan tersebut diantaranya disebabkan oleh faktor moderasi konsumsi masyarakat pasca puasa Ramadhan dan Idul Fitri, selesainya pelaksanaan pemilu serentak dan melambatnya impor barang intermedier," jelasnya.

Sedangkan, perlambatan dari sisi lapangan usaha bersumber dari kontraksi lapangan usaha pertambangan dan penggalian, perlambatan industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan motor.

"Masih berlanjutnya natural declining minyak bumi yang ada di Riau, perlambatan pertumbuhan penyerapan B20 dibandingkan triwulan sebelumnya, dan berkurangnya intensitas konstruksi pembangunan seksi I dan II tol Pekanbaru-Dumai menjadi beberapa faktor yang mendorong perlambatan ekonomi pada triwulan III 2019," ujarnya.

Sedangkan, memasuki triwulan IV 2019, perekonomian Riau diperkirakan tumbuh positif, berada pada kisaran 2,35-2,85 persen (yoy), meningkat dibandingkan realisasi triwulan III 2019. Peningkatan ini dari sisi penggunaan diperkirakan bersumber dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, peningkatan PMTB, dan perbaikan kontraksi ekspor.

Peningkatan permintaan masyarakat pada akhir tahun seiring dengan promo-promo belanja akhir tahun dan membaiknya pertumbuhan harga CPO, minyak bumi dan karet menjadi beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan mendatang.

Sedangkan peningkatan konsumsi pemerintah didorong oleh percepatan realisasi belanja daerah yang secara historis terjadi menjelang akhir tahun. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dari sisi penggunaan juga didorong oleh perbaikan kontraksi ekspor luar negeri seiring dengan perbaikan pertumbuhan harga CPO dan karet. Sedangkan dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan diperkirakan bersumber dari industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan besar dan eceran.

"Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan berada pada kisaran 2,5 - 3,0 persen (yoy) dengan tendensi bias ke atas sehingga diperkirakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2018," ujarnya.

Adapun laju pertumbuhan tertinggi dari sisi penggunaan diperkirakan bersumber dari peningkatan konsumsi LNPRT dan pemerintah. Yaitu membaiknya konsumsi LNPRT dan pemerintah pada tahun 2019 disebabkan oleh peningkatan konsumsi untuk belanja kampanye dalam pemilu serentak dan realisasi kenaikan gaji ASN sebesar 5 persen.

Sedangkan dari sisi sektoral, peningkatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan bersumber dari industri pengolahan.

"Peningkatan pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh perluasan kewajiban penggunaan B20 di dalam negeri, terbukanya pasar ekspor CPO yang baru seperti Timur Tengah dan peningkatan permintaan CPO dari Tiongkok akibat berkurangnya suplai kedelai dari Amerika Serikat akibat perang dagang yang terjadi antara dua negara tersebut," tutupnya. ***