SEJAK1997 setiap tahun musibah kabut asap rutin menimpa “Bumi Lancang Kuning. Setiap datang kabut asap saya pun selalu teringat dengan apa yang dikatakan oleh Prof Deliar Noer, “ini bukan asap, tetapi azab yang akan disusul oleh azab-azab berikut kepada bangsa yang sudah sangat durhaka kepada Allah ini.”

Ucapan itu selalu saja tergiang di telinga, apalagi ketika melihat dan merasakan betapa tersiksanya kita oleh asap yang seakan-akan telah menjadi agenda tahunan dan seperti program "multi years" saja di provinsi yang terkenal kaya dengan sumber daya alam ini.

Puluhan ribu hektar hutan dan lahan terbakar setiap tahun dan puluhan ribu warga Riau menderita ISPA setiap tahun yang diakibatkan oleh perangai buruk orang-orang yang hanya ingin senang sendiri dengan mengorbankan ketenangan dan bahkan nyawa orang lain.

Saya tidak tahu sudah berapa banyak rapat digelar untuk mencari solusi, sudah berapa banyak uang yang dikucurkan, dan sudah berapa banyak "sumpah serapah" melompat dari mulut rakyat setiap hari. Yang saya tahu, asap terus saja membubung ke udara setiap musim panas datang, lalu turun ke bumi dihisap oleh rakyat yang tidak tahu masalah, tetapi menuai musibah yang dibuat oleh orang-orang serakah, orang-orang yang menuhankan harta, mendurhakai Yang Maha Kuasa. Masyarakat yang sudah lama kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya, semakin ragu akan apa yang akan dilakukan oleh mereka dalam menghadapi dan menyelesailan bencana.

Kesungguhan penguasa, apalagi yang berada di pusat sana dalam menangani bencana, betul-betul menjadi tanda tanya. Mereka bertanya, "mungkinkah lagu anak-anak 'angguk-angguk geleng-geleng' kini sedang dimainkan sekedar menghibur, lalu nantinya bakar lagi dan bakar lagi?"

Saya tidak tahu entah apa sesungguhnya kini yang sedang terjadi di republik "penuh tipu daya dan kepura-puraan ini. Saya hanya tahu ada firman Allah dalam kitab suci-Nya yang berbunyi, "mereka menipu daya Allah dan orang-orang beriman, tetapi ingatlah bahwa tidak ada yang mereka tipu melainkan diri mereka sendiri." (QS.6:123-124).

Saya hanya ingat firman Allah yang lainnya tentang hukuman yang pantas untuk kaum yang membuat kebinasaan di muka bumi ini dalam surat al-Maidah ayat 33, "sesungguhnya balasan untuk orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya berselang seling, atau dibuang dari negeri, sebagai kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka akan diazab dengan azab yang amat besar."***

Penulis adalah Guru Besar UIN Suska Riau