PEKANBARU, GORIAU.COM - Bupati Kepulauan Meranti, Riau, Irwan Nasir, menilai budi daya tanaman sagu potensial diintensifikan di daerah pesisir tersebut karena masyarakat setempat telah akrab dengan komoditas tersebut sehingga bisa menekan impor beras.

"Kami mendorong warga untuk terus menanam sagu, jangan bergantung pada beras dan ini bisa menekan impor beras yang dilakukan pemerintah," kata Irwan Nasir kepada wartawan di Pekanbaru, Jumat.

Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan kabupaten termuda di Provinsi Riau, yang memiliki potensi komoditas sagu terbesar. Irwan mengatakan, ada sekitar 70 ribu hektar kebun sagu di Kepulauan Meranti yang sudah lama ditanam oleh masyarakat dan kini juga menarik perusahaan besar.

"Ada 67 pabrik pengolahan sagu skala kecil dan sedang di Meranti yang menjadi lapangan kerja bagi warga," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah setempat tidak pernah takut apabil terjadi kelangkaan beras karena masyarakat pesisir pantai timur Sumatera sudah lama mengandalkan sagu sebagai makanan pokok. Sagu sudah lama menjadi diolah sebagai mi dan aneka panganan di tengah masyarakat setempat.

Hanya saja, ia mengatakan pemerintah pada zaman Orde Baru terlalu memaksakan nasi sebagai bahan pangan pokok nasional sehingga sagu tidak berkembang dan terpaksa ditinggalkan warga.

"Sagu jadi terpinggirkan oleh beras. Seakan masyarakat yang makan sagu menjadi masyarakat terbelakang," ujarnya.

"Untuk apa kita bergantung pada beras kalau pemerintah sendiri masih impor. Mengapa bukan sagu yang kita galakkan," lanjut Irwan.

Menurut dia, pemerintah harus mengurangi impor dan secara serius mengembangkan makanan khas daerah sebagi pengganti beras. Irwan mengaku tidak sependapat seluruh orang Indonesia harus disamakan makanan pokoknya berupa nasi, sebab masing-masing daerah sejak dulu punya makanan pokok sendiri.

"Ada yang makan pokoknya beras, ada umbian, ada jagung, dan sagu. Marilah kita kembalikan seperti dulu lagi, sesuaikan daerahnya masing-masing," katanya.

Bahkan, Irwan Nasir mengatakan tak ingin lahan yang tersisa di daerahnya menjadi hutan tanaman industri (HTI) kayu akasia untuk bahan baku bubur kertas dan kelapa sawit. Menurut dia, akasia merupakan tanaman asing buat masyarakat Meranti yang dinilai kurang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

"Selagi saya menjadi bupati, saya akan menentang jika lahan ditempat kami alih fungsi hutan menjadi HTI akasia. Kita berharap, pemerintah pusat harus mendukung sesuai kondisi daerah masing-masing," katanya. ***