Oleh Tgk H Luthfi Arongan (Ayah Panti)
Rajab merupakan salah satu bulan yang mulia dan terdapat kelebihan tersendiri di sisi Allah SWT. Dia telah menciptakan alam dan isinya serta menjadikan dalam setahun dua belas bulan yang merupakann sunnatullah (ketetapan Allah) kepada hamba-Nya.
Di antara dua belas bulan tersebut salah satu bulan yang mempunyai kelebihan dan kemuliaan bernama Rajab. Bulan ini terletak di antara bulan Jumaial Akhir dan bulan Sya’ban. Dalam klasifikasi bulan haram, bulan Rajab di dalamnya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT berbunyi: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 36).
Dalam kitab Tafsir Ibnu Kasir dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ahmad berkata, Isma’il telah bercerita kepada kami, Ayyub telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sirin memberitahu kami, dari Abi Bakrah, bahwasanya Nabi Saw menyampaikan khutbah pada saat haji, seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa zaman berputar seperti keadaannya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan-bulan suci, tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antarajumadi dan Sya’ban.
”Setelah itu beliau Saw, bertanya: “Hari apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lalu beliau terdiam, hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau berkata: “Bukankah (ini) hari penyembelihan hewan kurban?” Kami menjawab: “Ya.”
Kemudian beliau bertanya: “Bulan apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah (ini) bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab: “Ya.”. Kemudian beliau bertanya: “Negeri apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah negeri ini (negeri Haram)?” Kami menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah, harta, dan aku mengira beliau mengatakan dan kehormatanmu diharamkan atas kamu seperti diharamkannya hari ini, di bulan ini, di negerimu ini. Kamu akan bertemu dengan Rabbmu dan Allah akan bertanya tentang perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai setelah aku wafat, kamu kembali kepada kesesatan, kamu saling membunuh. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan? Ingatlah, yang hadir saat ini hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir, mudah-mudahan (terkadang) orang yang menyampaikan lebih faham daripada sebagian orang yang mendengar.” (Tafsir Ibnu Kasir, Ibnu Kasir,)
Dalam menjelaskan ayat di atas Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar seperti keadaanya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam ketetapan Allah di saat Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan itu, empat di antaranya adalah bulan haram (suci dan agung); tiga di antaranya berturut-turut yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam sedangkan yang satu lagi terpisah yaitu bulan Rajab, terletak di antara bulan Jumadai dan bulan Sya’ban.”
Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam hadis di atas antara lain:
Nabi mengakui adanya peredaran waktu sejak peristiwa terjadinya langit dan bumi. Dalam ilmu modern manusia meyakini bahwa kejadian langit dan bumi berasal dari sebuah “ledakan besar” yang menyebabkan alam yang pada mulanya merupakan sebuah benda yang sangat besar yang luar biasa besarnya, berasal dari gumpalan gas yang memadat, kemudian meledak menjadi serpihan-serpihan berupa bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda angkasa di seluruh jagat raya.
Teori manusia ini sebenarnya bukan barang baru. Allah telah menceritakannya pada kita di dalam Alquran surat Al Anbiya ayat 30: ”Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Dengan demikian Islam lebih dahulu mengakui bahwa bumi itu beredar mengelilingi matahari dan menimbulkan pergesaran waktu siang dan malam, sebagai salam satu ketetapan Allah hal ini penting kami tegaskan sebab sudah ada segelintir umat Islam yang mengikuti fatwa ulama mereka dari Arab Saudi yang menghukumkan “kafir” atas orang-orang yang tidak mempercayai bahwa bumi ini diam, dan tidak bergerak. Menurut mereka justru mataharilah yang bergerak mengelilingi bumi.
Bahwa jumlah bulan itu jumlahnya 12 bulan dalam setahun, tidak lebih dan tidak kurang.
Ada empat bulan yang digelari bulan suci dan agung, yakni bulan haram antara lain: Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Muharam.
Dengan demikian keempat bulan ini berbeda derajatnya dengan bulan-bulan yang lain. Dan, Allah Maha Kuasa meninggikan derajat sesuatu dan memilih makhluknya menduduki tempat yang utama dibandingkan derajat makhluk yang lain. (HR. Ibnu Abbas, Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal: 157–158)
Salah satu perbedaan bulan-bulan haram yang empat di atas dengan bulan-bulan biasa adalah ganjaran pahala yang didapat jika beramal di dalamnya lebih besar dibandingkan dengan amalan yang sama di bulan yang lain. Sebaliknya ganjaran dosa yang diterima jika melakukan perbuatan durhaka kepada Allah juga lebih besar jika dibandingkan dengan berbuat dosa di bulan lain.
Qatadah berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih banyak pilihan dari kalangan makhluk-Nya. Allah memilih dari kalangan malaikat yang dijadikan sebagai utusan-Nya, juga memilih dari kalangan manusia yang dijadikan sebagai utusan-Nya. Allah juga memilih dari kalam-Nya yaitu Alquran; dari permukaan bumi ini masjid-masjid; dari bulan-bulan yang ada dipilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan Haram; dari hari-hari yang ada, Allah memilih hari Jum’at; dan dari malam-malam yang ada, Allah memilih Lailatul Qadar.
Oleh sebab itu agungkanlah apa yang telah diagungkan oleh Allah karena sesungguhnya keagungan itu hanyalah kepada apa yang diagungkan oleh Allah saja. Demikian menurut orang-orang yang berakal dan memiliki kepahaman (Lihat Tafsir Ibnu Katsir halaman: 157 – 158)
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulloh meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.” (Tafsir ath-Thabari)
Puasa Sunah
Bersabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya dalam syurga itu ada sebatang sungai yang disebutkan sungai Rejab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu, sesiapa yang berpuasa satu hari pada Rejab, Allah akan memberinya minum daripada sungai itu.” (HR. Imam Baihaqi).
Puasa sunnah pada bula Rajab terdapat banyak hadis-hadis Rasulullah Saw yang menganjurkan untuk melakukannya karena mempunyai nilai pahala berlipat ganda.
Diriwayatkan oleh Tsauban bahwa Ia pada suatu ketika berjalan bersama Rasul Saw melewati suatu kuburan di mana Rasulullah saw berhenti sejenak dan menagis tersedu-sedu. “Kenapa engkau menangis ya Rasulullah?” tanya Tsauban.
Lalu Rasulullah bersabda : “Aku berdoa untuk mereka yang sedang disiksa kuburnya maka diringankanlah siksanya oleh Allah. Coba mereka berpuasa satu hari dan tidak tidur satu malam dalam bulan Rajab, mereka tidak akan disiksa dalam kuburnya.”
Tgk H Luthfi Arongan ialah Pimpinan Dayah Harapan Ummat, Arongan, Kabupaten Bireuen, Aceh.


