PANGKALANKERINCI, GORIAU.COM - Masyarakat Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau, mengeluhkan kerusaka jalan penghubung desa. Selain rusak, jalan ini juga selalu terendam ketika air Sungai Kampar pasang.

Padahal, ruas jalan sepanjang 8,5 kilometer yang dibangun menggunakan APBD Pelalawan itu, merupakan satu-satunya jalur darat menuju desa yang terletak di pinggir bantaran Sungai Kampar tersebut."Sedikitnya ada lima titik yang mengalami rusak parah, sehingga masyarakat harus berjuang dan bergelut lumpur kuning saat melintasi jalan," ungkap Imex, salah seorang warga Desa Sungai Ara, Minggu (12/1).Imex mengatakan, sebelum jalur darat tersebut dibangun, warga hanya bergantung dengan jalur air menggunakan sampan dan pompong saja.Imex menjelaskan, awalnya jalan itu dibangun oleh Pemkab Pelalawan, namun perencanaan pembangunannya dinilai kurang kurang matang. Daerah ini bergambut dan sangat dekat dengan bibir sungai, namun badan jalan tidak melebihi permukaan air sungai, sehingga ketika air sungai pasang, badan jalan terendam."Beberapa hari ini, segenap lapisan masyarakat berjibaku memperbaiki akses. Karena, jika tak turun tangan, entah kapan jalan itu diperbaiki oleh pemerintah. Pada badan jalan yang berlubang besar dipenuhi lumpur itu disusun gambangan atau pokok-pokok kayu yang dipasang melintang di badan jalan, agar lobang tertutup dan tak licin lagi," terang pemuda Sungai Ara itu seraya mengungkapkan, warga setempat melakukan gotong royong dengan menggunakan alat seadanya.Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi C DPRD Pelalawan Eka Putra mengatakan, bahwa ruas jalan menuju Desa Sungai Ara tersebut berada di medan yang berat. Selain lahan yang bergambut juga berada di bantaran Sungai Kampar.Menurut Eka, konsep pembangunan badan jalan harus lebih ditinggikan lagi, untuk mengantisipasi jika air Sungai Kampar pasang, sehingga tidak lagi melimpah ke badan jalan."Tahun ini jalan tersebut akan dibangun secara bertahap. Akses itu mesti dibangun dengan sistem rigid atau badan jalan ditimbun dan ditinggikan dari permukaan air Sungai Kampar dengan cara beton bertulang, agar terbebas dari sapuan banjir," tegasnya.Eka menambahkan, sistem itu pendanaannya tidak sedikit. Jika diperhitungkan, satu kilometer saja mencapai Rp7 miliar."Jadi, secara bertahap, setiap tahunnya akan kita bangun satu kilometer dengan sistim rigid. Selain itu, peran masyarakat terhadap pembangunan sangat menentukan, jadi mohon kerja samanya," tutupnya.(rkn)