JAKARTA – Penyintas banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara berupaya keras memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi mereka secara mandiri. Sisa kayu gelondongan yang berserakan usai hantaman air bah kini disulap warga Desa Garoga menjadi material utama pembangunan hunian tetap sementara (huntara).

Warga Desa Garoga, Indra Batubara, berinisiatif mengolah tumpukan limbah kayu tersebut menjadi fondasi bangunan. Keputusan ini diambil untuk menyiasati kondisi finansial yang terpuruk sekaligus membersihkan lingkungan desa dari puing-puing sisa hantaman bencana.

"Kita bangun huntara ini memanfaatkan kayu gelondongan sisa-sisa banjir waktu lalu. Karena memang ini kan bisa dimanfaatkan juga kan sebagai fondasi rumah ini," urai Warga Desa Garoga, Indra Batubara mengutip laporan Antara, Selasa (17/3/2026).

Indra memotong sekitar 14 batang kayu berukuran besar untuk mendirikan struktur hunian seluas 35 meter persegi yang merangkum satu ruang tamu dan satu kamar tidur. Meski pemerintah daerah telah menyediakan fasilitas penampungan resmi tidak jauh dari desanya, ia memilih membangun struktur secara mandiri demi merancang ruang usahanya sendiri.

"Kami mulai bangun ini kemarin di tanggal 10 Maret dan selesai direncanakan sebelum Lebaran. Nantinya di depan ini, juga bakal dimanfaatkan untuk membuka warung kopi," tambahnya.

Semangat bertahan hidup serupa juga terlihat dari kegigihan warga yang menempati lokasi pengungsian resmi. Penghuni huntara, Derma Siregar, memanfaatkan ruang terbatas di tempat penampungan tersebut untuk menjajakan voucher pulsa, makanan ringan, teh, hingga kopi.

"Kalau untuk tinggal sih, kami merasa nyaman ya. karena kan fasilitas udah ada semua ya, kamar mandi dan ruang terbukanya juga sudah ada," jelas Derma Siregar.

Berdekatan dengan lokasi Derma, Penjual Sayur, Lina Hutabarat juga mulai merintis usaha harian untuk menyambung hidup. Ia merasa bersyukur mendapat tempat berteduh sementara sembari menunggu perbaikan rumah utamanya yang hancur, meski harus memulai bisnis kecilnya dari nol di lingkungan baru.

"Kami juga baru tinggal di sini dan kami jualan sayur-mayur ini juga baru hari ini. Jadi, belum banyak yang tahu kalau kami ini jualan sayur-mayur," ungkapnya.

Saat ini, tercatat sebanyak 245 keluarga terpaksa harus beradaptasi dan menempati kawasan penampungan sementara di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.***