KETIKA Ilmu dan Kekuasaan tidak lagi dijaga Iman dan Integritas.

Jangan sampai kita melahirkan pemimpin yang cerdas membangun citra, tetapi lalai menjaga amanah. Jangan sampai gelar menjadi kebanggaan, kekuasaan menjadi kesombongan, dan jabatan menjadi jalan untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Menjadi pemimpin itu tak cukup hanya berilmu, bergelar, cerdas, atau berkuasa. Ilmu membuka jalan, akal menyusun langkah, tetapi iman menjaga arah agar tidak tersesat dari kebenaran, dan integritas untuk membangun kepercayaan, menciptakan lingkungan positif, dan mencegah perilaku korupsi.

Tak cukup hanya menjadi pintar jika kejujuran tak menjadi pegangan. Tak cukup sekedar berilmu jika akhlak tak menjadi landasan. Dan tak cukup memiliki kekuasaan jika diri sendiri tak mampu mengendalikan nafsu.

Kepintaran kehilangan makna tanpa kejujuran. Ilmu kehilangan martabat tanpa akhlak. Dan Kekuasaan kehilangan kehormatan ketika seseorang tak mampu menundukkan nafsu, birahi politik, dan syahwat kekuasaan.

Sebab, kekuasaan bukan hak untuk bertindak sekehendak hati. Jabatan bukan milik pribadi. Semuanya adalah amanah yang kelak harus di pertanggungjawabkan.

Godaan akan selalu ada. Setan tak pernah berhenti menggoda, nafsu tak pernah puas meminta. Tanpa iman dan integritas, kekuasaan dapat membutakan nurani, membenarkan yang salah, dan mengorbankan kepentingan rakyat demi ambisi pribadi.

Karena itu, jangan menilai pemimpin dari gelar, dari kata-kata, dan janji. Lihatlah kejujurannya, perbuatannya, keberpihakannya kepada kepentingan masyarakat, serta keberaniannya mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

Kepada para pemegang amanah, ingatlah: jabatan ada batasnya, kekuasaan ada akhirnya, tetapi pertanggungjawaban tidak boleh diabaikan. Jangan menunggu kehilangan kekuasaan untuk menyadari kesalahan. Jangan menunggu kepercayaan runtuh untuk belajar tentang kejujuran.

Masyarakat, jangan mudah terpukau oleh pencitraan. Gunakan akal sehat, tegakkan kepedulian, berani mengingatkan, dan awasi kekuasaan dengan cara yang bertanggung jawab.

Kita membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga bersih bertindak; bukan hanya pandai bicara, tetapi berani menepati janji; bukan hanya memiliki kekuasaan, tetapi memahami batas moral dan tanggung jawabnya.

Sebab, kekuasaan tanpa integritas adalah ancaman, ilmu tanpa moralitas kehilangan arah, dan iman tanpa perbuatan kehilangan makna.

Mari kita jaga amanah sebelum amanah itu menjadi penyesalan. Sebab, jabatan hanyalah titipan, kepercayaan adalah kehormatan, dan setiap kekuasaan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban—dihadapan manusia, hukum, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Tak cukup menjadi pemimpin. Jadilah pemimpin yang beriman, berintegritas, dan takut menyalahgunakan amanah. ***