
Tidak cukup ilmu.
Tidak cukup gelar.
Tidak cukup keberanian.
Tidak cukup pengalaman.
Sebab pada pandangan Melayu, menjadi pemimpin bukan sekadar tentang tinggi rendahnya kedudukan. Ada amanah yang harus dijaga. Ada marwah yang harus dipelihara. Ada budi yang harus dijunjung. Dan ada malu yang menjadi pagar ketika seseorang berhadapan dengan kekuasaan.
Orang Melayu sejak dahulu mengenal satu prinsip yang sederhana tetapi dalam: "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah." Artinya, kepemimpinan tidak boleh tercerabut dari nilai. Kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa batas. Kepandaian tidak boleh kehilangan akal budi. Dan keberanian tidak boleh meninggalkan kebenaran.
Hari ini kita hidup dalam zaman yang sangat mudah mengukur seseorang dari apa yang tampak: Gelar akademik dipajang. Jabatan disebut. Prestasi diumumkan. Pidato disebarkan. Citra dibangun.
Tetapi orang Melayu memiliki ukuran yang lebih dalam. Bukan hanya "Siapa orangnya?", tetapi: "Apa budinya?" Bukan hanya: "Seberapa tinggi kedudukannya?", tetapi: "Seberapa tinggi marwahnya?" Dan bukan hanya: "Seberapa besar kuasanya?", tetapi: "Seberapa amanah ia memegang kuasa?"
Kekuasaan Bukan Tempat Membesarkan Diri
Dalam falsafah Melayu, orang yang diberi kedudukan sejatinya sedang diberi amanah. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula tanggung jawabnya. Maka seorang pemimpin semestinya tidak semakin tinggi hati ketika semakin tinggi kedudukannya. Justru semakin tinggi ia ditempatkan, semakin rendah hatinya kepada rakyat. Sebab pemimpin yang baik memahami: jabatan bukan mahkota.
Jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukan kesempatan untuk mengambil lebih banyak. Kekuasaan adalah kewajiban untuk memberikan lebih banyak. Di sinilah ukuran seseorang pemimpin sesungguhnya. Bukan ketika ia belum memiliki kekuasaan. Tetapi ketika semua pintu kekuasaan terbuka di hadapannya.
Apakah ia masih tahu batas? Apakah ia masih mengenal malu? Apakah ia masih mampu membedakan mana hak dan mana kesempatan? Apakah ia masih sanggup berkata: "Ini bukan hak saya." Kalimat sederhana. Tetapi justru kalimat seperti itulah yang menjaga marwah seorang pemimpin.
Ilmu Tanpa Budi
Kita tentu membutuhkan orang berilmu. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang cerdas, berwawasan, dan mampu memahami persoalan zaman. Tetapi orang Melayu mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama budi.
Sebab ilmu tanpa budi dapat menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi kezaliman. Keberanian tanpa pertimbangan dapat menjadi kesewenang-wenangan. Dan kepandaian tanpa integritas dapat berubah menjadi kecerdikan mencari pembenaran.
Karena itu: Ilmu mengajarkan apa yang bisa dilakukan. Budi mengajarkan apa yang patut dilakukan. Dan seorang pemimpin harus memahami keduanya.
Malu Sebagai Benteng
Ada satu nilai yang semakin kita perlukan hari ini: malu. Bukan malu karena miskin. Bukan malu karena sederhana. Tetapi malu melakukan sesuatu yang merendahkan martabat diri dan merugikan orang lain.
Malu mengambil sesuatu yang bukan hak. Malu menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Malu mengkhianati kepercayaan rakyat. Malu berkata tidak sesuai dengan perbuatan. Malu ketika amanah berubah menjadi kesempatan memperkaya diri.
Dalam konteks ini, malu bukan kelemahan. Malu adalah benteng moral. Sebab hukum tidak selalu hadir tepat pada waktunya. Pengawasan mungkin memiliki keterbatasan. Mata manusia mungkin tidak selalu melihat semuanya. Tetapi seseorang yang memiliki iman dan rasa malu akan memiliki pengawas yang hidup di dalam dirinya sendiri: nurani.
Itulah sebabnya seorang pemimpin membutuhkan benteng iman. Iman yang tidak berhenti pada ucapan. Iman yang membuat seseorang sadar bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan. Kepada manusia, mungkin seseorang dapat memberikan alasan. Tetapi kepada Tuhan, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran.
Pemimpin dan Marwah Rakyat
Rakyat Melayu mengenal marwah. Harga diri. Kehormatan. Nama baik. Maka pemimpin yang sesungguhnya bukan menjaga marwah dirinya. Ia harus menjaga marwah rakyat yang dipimpinnya.
Jangan sampai rakyat diperlakukan hanya sebagai angka ketika pemilu. Jangan suara rakyat dicari ketika membutuhkan kekuasaan, lalu dilupakan ketika kekuasaan diperoleh. Jangan sampai kemiskinan rakyat hanya menjadi bahan pidato. Jangan sampai penderitaan rakyat menjadi dekorasi dalam kampanye.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir bukan hanya ketika membutuhkan dukungan, tetapi juga ketika rakyat membutuhkan perlindungan. Sebab dalam pandangan yang sederhana: Pemimpin ditinggikan bukan untuk meninggikan dirinya, tetapi untuk meninggikan harkat orang yang dipimpinnya.
Jangan Terpukau Kemasan
Karena itu, masyarakat perlu lebih cerdas dalam memilih pemimpin. Jangan hanya terpukau oleh gelar. Jangan hanya terpesona oleh pidato. Jangan hanya melihat keberanian tampil. Jangan hanya menghitung jumlah pengikut.
Lihatlah rekam jejaknya. Perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang kecil. Lihat bagaimana ia menghadapi kritik. Lihat bagaimana ia menggunakan kewenangan. Lihat bagaimana ia bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Dan yang paling penting: Lihat bagaimana ia bertindak ketika tidak ada yang melihat.
Di situlah karakter berbicara. Di situlah iman diuji. Di situlah integritas terlihat. Sebab manusia bisa membangun citra. Tetapi sulit menyembunyikan watak dalam waktu yang panjang.
Kembali kepada Amanah
Mungkin sudah waktunya kita kembali bertanya tentang hakikat kepemimpinan.
Bukan: "Siapa yang paling hebat?", tetapi: "Siapa yang paling amanah?"
Bukan: "Siapa yang paling kuat?", tetapi: "Siapa yang paling mampu menahan dirinya ketika memiliki kekuasaan?"
Bukan: "Siapa yang paling banyak bicara tentang rakyat?", tapi: "Siapa yang paling nyata bekerja untuk rakyat?"
Sebab pada akhirnya, pemimpin bukanlah orang yang paling tinggi tempat duduknya. Pemimpin adalah orang yang paling besar tanggung jawabnya. Dan semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Tidak cukup ilmu. Tidak cukup gelar. Tidak cukup keberanian. Tidak cukup pengalaman. Perlu iman sebagai benteng. Perlu integritas sebagai kompas. Perlu budi sebagai pedoman. Perlu malu sebagai pagar. Dan perlu marwah sebagai kehormatan yang tidak boleh dijual demi kepentingan sesaat.
Sebab dalam tradisi Melayu, orang yang besar bukan semata-mata karena kedudukannya. Ia besar karena budinya. Ia dihormati bukan semata-mata karena kuasanya. Ia dihormati karena amanahnya. Dan ia dikenang bukan berapa lama ia duduk di kursi kekuasaan, tetapi karena berapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan setelah turun dari kursi itu.
Maka, sebelum kita memilih siapa yang lebih layak memimpin, mari kita bertanya lebih dalam:
Apakah ia memiliki ilmu?
Apakah ia memiliki keberanian?
Apakah ia memiliki kemampuan?
Tetapi jangan berhenti di sana. Tanyakan pula:
Apakah ia memiliki iman?
Apakah ia memiliki integritas?
Apakah ia masih memiliki rasa malu ketika berhadapan dengan kekuasaan?
Dan yang paling penting:
Apakah ia mampu menjaga amanah dan marwah rakyat ketika tidak seorang pun mengawasinya?
Sebab akhirnya, jabatan boleh berganti, kekuasaan boleh berakhir, tetapi budi, amanah, dan marwah akan menjadi ukuran yang jauh lebih panjang daripada masa sebuah jabatan.
Tidak cukup jadi orang besar. Jadilah orang berbudi.
Tidak cukup jadi orang berkuasa. Jadilah orang amanah.
Tidak cukup mampu memimpin. Jadilah orang yang dipercaya.
Itulah pemimpin yang kita perlukan. Pemimpin yang tinggi ilmunya, kuat imannya, teguh integritasnya, halus budinya, dan terjaga marwahnya. ***