SELATPANJANG - Hingga saat ini, outlet produk khas Meranti, Riau, belum ada di luar daerah. Padahal, peminat akan produk-produk olahan Kota Sagu sangat diminati. Ini terlihat dari beberapa kali meranti ikut expo dan menampilkan produk khas daerah.

Hal itu sebagaimana diakui Kepala Bidang Penanaman Modal, Badan Penanaman Modal dan Pelyanana Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kepulauan Meranti, Afrizal Dharma. Afrizal mengatakan produk khas daerah berjuluk Kota Sagu ini sangat diminati saat ditampilkan dalam berbagai expo baik tingkat nasional maupun internasional. Namun, produk-produk itu tidak bisa dengan mudah didapatkan di tempat lain. Ia pun mengatakan bahwa meman perlu ada outlet produk khas Meranti di luar daerah. "Tentu lebih bagus jika ada outlet produk-produk itu di Batam ataupun Pekanbaru," kata Afrizal.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (DisperindagkopUKM) Kepulauan Meranti, Syamsuar Ramli, mengaku bahwa tahun 2014 lalu pihaknya telah menjajaki untuk mendirikan outlet khusus produk Meranti di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Namun, wacana itu tak terwujud dikarenakan pihak bandara membebankan biaya yang cukup tinggi. Mulai dari sewa tempat, listrik, luas outlet ditentukan pihak bandara, kemudian 10 persen keuntungan penjualan untuk pihak bandara.

"Sudah ada upaya kita membuat kesepakatan dengan pihak angkasa pura waktu itu. Namun, terkendala biaya, akhirnya tak jadi," kata Syamsuar Ramli.

"Semua biaya itu tidak bisa kita bebankan ke harga produk. Nanti menjadi mahal, dan minat beli orang akan menurun," tambahnya.

Saat ini pula, baru ada tempat yang menjual berbagai produk khas Kepulauan Meranti, seperti dari kopi luwak, kopi liberika, kerupuk udang, berbagai makanan turunan sagu, dan beberapa olahan lainnya. Cabang usaha yang berada di Terminal Tanjungharapan Selatpanjang dan di Jalan Diponegoro Selarpanjang itu merupakan program Disperindag yang kemudian diserahkan pengelolaannya pada Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kepulauan Meranti.

"Kalau untuk pengembangan ke kota lain, seperti Pekanbaru dan Batam, kita masih terbatas anggaran. Ditambah lagi pemotongan dari pusat. Disperindag hanya mendapatkan anggaran sekitar Rp 6 miliar tahun ini, termasuk anggaran untuk Dekranasda di dalamnya," beber Syamsuar.

Selain itu, beberapa daerah yang memesan produk sagu biasanya melalui internet kepada distributor lokal. Selain olahan sagu, juga ada pemesanan olahan ikan seperti nuget lomek. Namun, untuk nuget lomek, distributor lokal tidak berani mengirim ke luar daerah di luar provinsi. Mengingat waktu yang begitu lama baru sampai ke pemesanan, dan ini sangat beresiko bagi kesegaran bahan makanan. ***