
PEKANBARU, GORIAU.COM - Sekitar 3,5 abad Indonesia dikuasai Penjajah Belanda dan 3,5 tahuh dikuasai Jepang. Itu bukanlah waktu yang singkat ketika masyarakat dijadikan seperti budak dengan sentuhan kekerasan. Bagaimana mereka disiksa dan dipaksa untuk memenuhi semua kebutuhan para petinggi penjajah.
Kekayaan rempah-rempah dan hasil bumi Indonesia menjadi faktor utama kekuasaan penjajah. Kekayaan alam itulan yang membuat mereka 'betah' berlama-lama menyiksa rakyat Indonesia.
Aksi kesewenangan dari penjajah Belanda tersebut sempat memberi harapan ketika tentara Jepang datang ke Indonesia. Tapi ternyata Jepang yang juga berniat menguasai Indonesia tidak kalah biadab dengan menyiksa, membunuh rakyat yang tak berdosa.
Hingga suatu kesempatan, timbul suara ingin melakukan perlawanan secara serentak yang diprakarsai oleh pemuda-pemudi Indonesia, salah satunya dengan mengonsepkan kemerdekaan dengan rentetan sejarah yang panjang.
Meski kekuatan penjajah masih tinggi untuk kembali membombardir, namun para penggerak kemerdekaan tetap ingin segera Indonesia merdeka. 'Ending'-nya adalah perumusan teks proklamasi yang digagas Soekarno-Hatta bersama sejumlah tokoh, pemuda dan pers. Perumusan yang juga sedikit mengalami kendala dalam mencari tempat, akhirnya selesai jelang 17 Agustus 1945 dan selanjutnya dibacakan.
Cerita singkat tersebut digambarkan dalam Treatikal Kemerdekaan di Halaman Kantor Gubernur Riau, saat upacara peringatan HUT Ke-70 RI, Senin (17/8/2015). Diperagakan oleh para pelajar cukup menyedot perhatian para petinggi Riau dan tamu undangan.
Mulai Plt Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman, Ketua DPRD Riau Suparman, Sekdaprov Riau Zaini Ismail, Danrem 031/WB, Kapolda Riau serta para Forkopimda, tokoh masyarakat serta para undangan yang hadir.***