PEKANBARU, GORIAU.COM - Kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Riau kehilangan salah satu tokoh daerah terbaiknya, yaitu Mardianto Manan. Mardianto adalah salah seorang putra terbaik Kuantan Singingi yang sebelumnya tercatat sebagai pengurus periode 2010 - 2015.

Mardianto mundur karena terjadi penempatan PAW DPRD Riau yang tidak jelas oleh Ketua dan Sekretaris DPW PAN. Karena itu, Mardianto menilai kepemimpinan Herliyan Saleh - Herman Ghazali amburadul karena menjalankan organisasi dengan cara yang tidak benar.

Menurut Mardianto, karena Triwan Hardi sudah melakukan penggelembuangan suara sehingga berada pada posisi ketiga, maka untuk proses pergantian antar waktu untuk menggantikan Adrian Ali menjadi hak Mardianto. Namun Ketua dan Sekretaris DPW PAN tanpa melalui rapat pleno justru mengirimkan nama Triwan Hardi sebagai PAW Adrian Ali.

''Saya menilai kepengurusan PAN pimpinan Herliyan Saleh dan Herman Ghazali tidak jelas dan amburadul. Kasusnya bukan ini saja, tapi banyak terutama dalam program kerja DPW,'' jelasnya.

Soal penetapan nama untuk PAW bukan tak berdasarkan, dirinya adalah pemenang kedua setelah Adrian Ali karena pemenang kedua, Triwan Hardi sudah dinyatakan melakukan penggelembungan suara dan dinyatakan 874 suara Triwan di Kuantan Mudik pada Pemilu tahun 2009 tidak sah. Penggelembungan itu menyebabkan Triwan kehilangan suara dan menempatkan Mardianto sebagai pemenang kedua.

Penggelembungan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Kecamatan Kuantan Mudik itu sudah diakui oleh KPU Kuansing yang dikuatkan dengan berita acara.

Dengan pembatalan suara Triwan Hardi itu, maka Mardianto Manan menempati posisi kedua untuk calon anggota DPRD Riau dengan perolehan suara total 3.062 suara diikuti Triwan Hardi 2.287 suara.

Dengan perolehan itu, seharusnya Ketua dan Sekretaris DPW PAN menetapkan Mardianto sebagai pengganti antar waktu Adrian Ali. Namun kenyataannya ada permainan di DPW yang tetap merekomendasikan Triwan Hardi sebagai PAW. ***