SELATPANJANG, GORIAU.COM – Investor Singapura menyatakan minatnya untuk berinvestasi pengelolaan air bersih di Selatpanjang. Melalui bendera WaterTech Pte Ltd, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti diajak untuk joint ventures mengelola air baku menjadi air bersih. Sebelumnya BUMN Singapura ini telah berkiprah di China, Mongolia, Timur Tengah hingga ke Amerika Utara.

Minat serius itu diutarakan oleh Division Director WaterTech Pte Ltd, Dawn Kong Selasa (11/2/2014) saat presentasi prospektif bisnis pengelolaan air bersih di kantor Bappeda, Selatpanjang.

Menurut Dawn Kong, WaterTech Pte Ltd sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan sumber air baku menjadi air bersih di Singapura. Tidak hanya di negerinya saja, BUMN milik Singapura ini sudah melakukan ekspansi bisnis pengelolaan air bersih ke China, Mongolia, Timur Tengah hingga ke Amerika Utara.

Bahkan tidak saja melakukan pengolahan air baku yang siap untuk langsung dikonsumsi, WaterTech juga menyediakan desain dan rekayasa untuk mendaur ulang air limbah pembuangan menjadi air siap minum. Penyulingan air laut menjadi air bersih (desalinasi) juga tak luput dari proyek penggarapan pengelolaan air berbasis eco-engineering ini.

"Saya sudah melihat PDAM Selatpanjang yang sudah tidak lagi berfungsi. Dari properti, infrastruktur  instalasi hingga kolam penampungan air baku masih memungkinkan untuk dipergunakan. Meski tidak semua instalasi berfungsi baik," ujar Dawn yang didampingi Tan Chee Meng, Assistant Manager and Business Development, Foo Jun Rong, Business Development Executive dan Gita Corporate Excecutive  WaterTech Pte Ltd.

Dengan kondisi yang ada sekarang, tambah Dawn lagi, perusahaan akan mengkaji lebih jauh tentang ketersediaan bakan baku air yang disuplai ke kolam penampungan yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Jika suplai air baku hanya dipasok dari Tasik Nambus, maka akan dilakukan penghitungan kapasitas debit air dan alternatif air sungai yang berada di sekitar kolam penampungan. Demikian pula dengan kapasitas pelanggan yang dialiri dengan pipanisasi dan menghitung kubikasi konsumsi rumah tangga.

"Kami perlu data detail untuk kapasitas air baku dan suplai. Juga konsumen terpasang pipa PDAM yang selama ini terhenti. Dengan menghitung secara detail, maka baru dapat kami sebutkan berapa nilai investasi yang diperlukan untuk membangun pengelolaan air bersih di Kabupaten Kepulauan Meranti," ujar Dawn.

Dawn menawarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk melakukan kerjasama dalam pengelolaan dan pelayanan kebutuhan industri pengolahan air bersih yang selama ini menjadi isu strategis tentang krisis air bersih dengan pola joint ventures (Kerjasama dua belah pihak atau lebih). Pola kerjasama yang akan dibangun antara lain, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Badan Usaha Milik Daerah dapat mengalokasikan asset berupa tanah, mesin pengolahan air, dan air baku, sementara WaterTech meng-input investasi dengan menggandeng pembiayaan Bank Dunia.

"Stasiun pipa dan jaringan pipa intake murni dimiliki oleh pemerintah daerah. Pengolahan air baku menjadi air bersih dengan standar built, own, operated and transfer (BOOT) menjadi pekerjaan kami. Maka, pemerintah melalui BUMD membeli air bersih dari perusahaan joint ventures untuk didistribusikan melalui jaringan pipa kepada masyarakat pengguna dan industri. Kami sangat menjaga kualitas air yang konsisten dan berkelanjutan dengan masa konsesi selama 30 tahun," kata Dawn.

Dengan rencana bisnis yang disampaikan WaterTech tersebut, maka krisis air bsersih yang melanda Kabupaten Kepulauan Meranti hingga saat ini dapat menjadi solusi konkrit dan akses air bersih dapat dinikmati oleh masyarakat serta membuka peluang kerja yang besar bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda), Mohammad Aza fahroni menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima penawaran dari pihak investor tersebut. Yang jelas pihakya akan mengkaji lagi. Sehingga nantinya tidak salah langkah.

"Jika menguntungkan kenapa tidak kita terima penawaran mereka. Apalagi kita sangat kesulitan mendapatkan air bersih saat ini. Tapi kita lihat nanti, setelah kita kaji lebih jauh," terang Aza.***