
PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Provinsi Riau. Dari awal Januari hingga akhir Juli 2025, total lahan yang terbakar mencapai 1.404,38 hektar, tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota.
Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal, Jumat (1/8/2025) memaparkan bahwa luasan terbesar tercatat di Rokan Hilir dengan menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan total lahan terbakar mencapai 280,25 hektar. Di belakangnya, Rokan Hulu menyusul dengan 232,3 hektar, disusul Kampar 222,75 hektar, dan Kepulauan Meranti seluas 185,20 hektar.
Sementara itu, sejumlah daerah lain juga tak luput dari jilatan api. Di Pelalawan tercatat 96,50 hektar terbakar, Siak 94,69 hektar, Bengkalis 78,70 hektar, dan Dumai 65,38 hektar. Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi pun terkena dampak dengan 51,36 hektar lahan yang hangus.
Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir masing-masing melaporkan 52,25 hektar dan 41,50 hektar lahan terbakar. Kuantan Singingi menjadi daerah dengan luas kebakaran paling kecil, yakni 3,50 hektar.
2.013 Hotspot, Riau Sumbang 29 Persen Titik Panas Sumatera
Lebih lanjut Edy beberkan data satelit yang dikumpulkan oleh BMKG dan BRIN. Dimana Provinsi Riau telah mencatat 2.013 titik panas (hotspot) sejak Januari hingga 31 Juli 2025. Angka ini menyumbang 29 persen dari total 6.906 hotspot yang terdeteksi di seluruh Pulau Sumatera.
Rokan Hilir menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 761 titik, disusul Rokan Hulu dengan 439 titik. Sementara itu, Pelalawan mencatat 204 titik, Dumai 145, Siak 99, Bengkalis 93, dan Kampar 74 titik.
Kabupaten/kota lain yang juga terdampak antara lain Kepulauan Meranti dengan 57 titik hotspot, Indragiri Hilir 54 titik, Indragiri Hulu 46 titik, Kuantan Singingi 30 titik, dan Pekanbaru dengan 11 titik.
“Ini menjadi alarm serius bagi kami untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Kami tidak hanya melihat angka, tetapi dampak yang bisa ditimbulkannya di lapangan,” ujar Edy kepada Goriau.
326 Titik Api, Kampar dan Pekanbaru Tertinggi
Selain hotspot, Riau juga mencatat 326 titik api (firespot) selama tahun 2025. Titik api mencerminkan kejadian kebakaran aktif di permukaan tanah, berbeda dengan hotspot yang terdeteksi melalui satelit.
Kabupaten Kampar menjadi wilayah dengan jumlah titik api terbanyak, yakni 70 titik, disusul Kota Pekanbaru dengan 61 titik, dan Siak sebanyak 49 titik. Sementara itu, Rokan Hilir mencatat 25 titik api, Rokan Hulu dan Dumai masing-masing 21 titik, serta Bengkalis dan Pelalawan masing-masing 18 titik.
Di wilayah lain, Indragiri Hilir terpantau memiliki 16 titik api, Indragiri Hulu 15 titik, Kepulauan Meranti 8 titik, dan Kuantan Singingi 4 titik.
Lonjakan titik api ini mengindikasikan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama di tengah musim kemarau yang tengah berlangsung. Pemerintah dan pihak terkait terus mengintensifkan patroli serta upaya pemadaman demi mencegah perluasan kebakaran.
Untuk mendukung pemadaman, Satgas Udara Karhutla Riau yang dikomandoi oleh BNPB terus mengintensifkan operasi. Unit pesawat dan helikopter dikerahkan untuk patroli, pemadaman udara (water bombing), dan penyemaian garam guna menurunkan potensi kemunculan titik api baru.
“Kami terus mengoptimalkan seluruh armada yang ada. Fokus kami adalah mencegah titik api kecil menjadi besar, apalagi jika sudah menyentuh kawasan gambut,” ujar Edy.
Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat karhutla sejak awal tahun. Dengan tren cuaca kering dan potensi El Nino lemah yang masih berlangsung, personel satgas darat dan udara tetap disiagakan di titik-titik rawan, terutama di lahan gambut dan kawasan konsesi.
BPBD Riau juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pemerintah meminta perusahaan perkebunan dan pemilik konsesi untuk memperketat pengawasan internal dan menjaga sistem pemadaman dini.
“Angka hotspot yang tinggi ini bukan hanya angka, tapi peringatan. Kita harus bergerak cepat, sebelum api bergerak lebih cepat dari kita,” tutup Edy. ***