SELATPANJANG, GORIAU.COM - Banyak tradisi saat ramadan yang dimainkan anak-anak zaman dahulu kini terancam punah. Salah satunya permainan senter lilin yang digunakan untuk menerangi saat malam hari.

Senter lilin yang menggunakan bahan kaleng bekas dan lilin kecil beberapa tahun belakangan tidak lagi ditemukan. Padahal dulu permainan ini ditunggu-tunggu, mengingat dalam 1 tahun hanya sekali dimainkan yaitu saat 27 puasa (malam tujuh likur). Dulu, saat memasuki puasa ke 26, anak-anak di beberapa desa seperti Desa Mekong Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti (saat ini, red), Riau, sibuk mencari kaleng bekas. Seperti kaleng susu, kaleng sardin dengan ukuran sedang, maupun kaleng-kaleng lainnya. Untuk membuat senter lilin ini tidaklah susah. Salah satu permukaan kaleng itu dibolongi, kemudian permukaan yang satu lagi dibiarkan tertutup. Permukaan yang tertutup ini dibuat lubang-lubang menggunakan paku. Lubang-lubang ini digunakan sebagai tempat udara agar api lilin tidak mudah padam. Sebagai tangkai untuk memegang kaleng itu, diikat seutas kawat. Kawat ini digunakan agar saat kaleng mulai panas akibat terbakar, tangkai tidak mudah putus. Kemudian, pada permukaan yang bolong tadi diletakkan lilin kecil kemudian lilin tersebut dinyalakan. Rata-rata anak kecil yang keluar pada saat 27 puasa (malam) itu memainkan senter lilin ini. Entah karena waktu suasana gelap (tanpa listrik waktu itu, red) di Desa Mekong, permainan senter lilin ini sangat menyenangkan, dipadu dengan cahaya-cahaya dari lampu minyak tanah yang disebut dengan colok. Permainan ini pun sangat mengasyikkan. Tapi sejak beberapa belakangan, anak-anak tak lagi memainkan senter lilin ini. Colok-colokpun banyak menggunakan lampu neon listrik. Suasana yang dulu dinanti-nanti kini tak lagi spesial. Tak ada satupun anak-anak sekarang yang mengenali permainan lama. Mereka diasyikkan dengan permainan dari smartphone ataupun gadget.(zal)