...Oh kawan dengar lagu iniHidup di bui menyiksa diriJangan sampai kawan mengalamiBadan hidup terasa mati...

Lirik lagu nostalgia "Hidup di bui" yang populerkan D'lloyd ini sepertinya tidak berlaku bagi Nadia (21). Sejak menjadi penghuni rumah tahanan (Rutan) Siak 11 bulan lalu, kehidupan gadis cantik ini malah berubah drastis. Cara pikirnya semakin dewasa dalam menyikapi setiap persoalan kehidupan. Kendati proses yang dilewati Nadia tidaklah mudah, namun Dia bersyukur Allah selalu menemani setiap langkahnya untuk menuntun ke jalan yang benar. Kini, Nadia begitu enjoy menjalani hari-harinya di rutan Siak. Selain belajar menenun, Nadia juga rajin sembahyang dan mengaji, hal yang tak pernah dilakukannya sebelum masuk penjara.

"Di sini bisa belajar menenun, sekarang sholat Saya tak pernah tinggal, tiap malam juga ngaji dengan napi wanita lainnya. Seminggu sekali juga ada pengajian. Hidup Saya lebih bermakna, walaupun dipenjara," kata Nadia kepada GoRiau.com, Kamis (5/9/14) lalu.

Kendati tak mau lagi mengenang masa lalunya yang suram, Nadia akhirnya bersedia berbagi pengalaman pahit itu dengan GoRiau.com. Dia berharap, apa yang dirasakannya itu menjadi inspirasi banyak orang, sehingga dapat mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya.

Kisah itu berawal ketika Nadia mulai ikut-ikutan memakai narkoba jenis sabu-sabu bersama teman-temannya. Mulanya hanya coba-coba, akhirnya jadi ketagihan. Akibat barang haram itu, tingkah laku Nadia jadi berubah, sering melamun dan mudah marah.

"Hidup jadi hampa, tak ada masa depan, kalau udah ngumpul dan makai sabu, baru semangat, heppy aja bawaan kita, kayak orang tak punya tujuan hidup," kata Nadia.

Namun, semuanya berakhir ketika suatu malam, sekitar 1 tahun lalu, Nadia dan beberapa temannya ditangkap pihak kepolisian karena diduga pemakai narkoba. Setelah melewati proses hukum, akhirnya majelis hakim Pengadilan Negeri Siak menvonis Nadia 4 tahun penjara.

"Mendengar vonis hakim, Saya sempat down, pikiran Saya berkecamuk, cacian, makian dan hinaan selalu mengahantui Saya. Orangtua dan keluarga juga ikut menanggung malu akibat peranggai Saya. Ingin waktu itu Saya mengakhiri hidup," cerita Nadia.

"Namun, apa yang Saya pikirkan ternyata salah. Allah maha segala-galanya. Dengan cara begini, pelan-pelan Saya dituntunnya kearah yang lebih baik. Mungkin ini hidayah bagi Saya. Saya dipertemukan dengan orang yang baik-baik, meskipun di dalam penjara. Pegawai Rutan ini juga baik semua, selalu menghargai Saya. Tak pernah awalnya Saya bayangkan seperti itu. Karena mendengar cerita dari teman-teman, hidup dipenjara itu menyiksa diri, badan hidup terasa mati, seperti lirik lagu itu," kata Nadia.

Gadis yang memiliki tinggi 165 cm dan berat badan 45 kilogram itu berusaha untuk tetap optomis menjalani masa hukuman yang masih tinggal 3 tahun lagi. Setiap hari, Nadia selalu menyibukkan diri dengan hal-hal positif, seperti belajar menenun, menjahit, menyanyi dan belajar agama.

"Bagi Saya, hanya dengan sholat dan mengaji bisa membebaskan diri dari pengaruh narkoba. Katanya kalau tak dapat barang haram itu, badan meriang, mengigil dan lain sebagainya. Cobalah sholat dan mengaji, Insyaallah perasaan itu bisa hilang, itu yang Saya lakukan," pesan Nadia.

Saat ditanya apa rencana setelah bebas dari penjara nanti, Nadia langsung tertunduk. Dia langsung teringat sosok Ayah dan Bundanya.

"Saya ingin berbakti kepada orangtua, sudah banyak dosa yang Saya lakukan. Setiap selesai sholat, Saya selalu berdoa agar Allah panjangkan umur Saya agar diberi waktu untuk berbakti kepada Ayah dan Ibu. Saya juga berdoa agar keluarga tabah menghadapi semua cobaan ini," kata Nadia terbata-bata.

"Kalau ada yang cocok, mau menerima Saya apa adanya, Saya siap untuk menikah setelah keluar nanti. Kalau Dia ada modal, Saya akan buka usaha tenun," canda Nadia.

Kepala Rutan Siak, Hensah SH MH mengatakan, Nadia merupakan gadis yang pintar. Apapun program yang dilaksanakan, Nadia cepat menguasai dan tidak malu untuk bertanya.

"Dia (Nadia,red) anak yang pintar, mudah-mudahan setelah keluar dari sini, bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat disekitarnya," ujar Hansah.

Selain Nadia, ada sekitar 8 orang napi wanita kasus narkoba yang ikut program menenun yang dilaksanakan Dekranasda Siak.

"Semua peralatan dan bahan baku disiapkan pihak Dekranasda. Kalau hasil tenunan napi ini laku terjual, pihak Dekranasda menyisihkan sebagian uang untuk mereka," ujar Hensah.(***)