DURI, GORIAU.COM - Penetapan tersangka pada Buyung Nahar atas pemalusuan surat tanah di desa Bumbung kecamatan Mandau oleh Polda Riau belum lama ini, membuat Pidi Ketua Kelompok Sakai yang tanahnya dibeli Buyung Nahar angkat bicara.

"Saya ini tak bisa tulis baca, malah saya disuruh tanda tangan surat tanpa dibacakan dulu," kata Pidi kepada GoRiau.com, Selasa (14/7/2015) sembari mengakui ada yang tidak beres dalam proses penyidikannya oleh penyidik Polda Riau yang sengaja datang ke hotel Grand Zuri kota Duri, kecamatan Mandau, kabupaten Bengkalis belum lama ini.

Menurutnya, saat mendapat panggilan dari pihak penyidik Polda Riau untuk diperiksa, ia tidak dapat hadir ke Pekanbaru sehingga tim penyidik turun ke kota Duri dan memanggil Pidi ke hotel Grand Zuri untuk diperiksa.

"Saat diperiksa di hotel itu, saya banyak disuruh tanda tangan surat ini dan itu. Anehnya saya tak dibacakan isi surat yang saya tanyakan. Saat diperiksa itu, juga ada pihak lain dari suku sakai yang juga ada disana. Namun apa kepentingannya saya tak tahu. Jelas aneh menurut saya, selesai saya diperiksa, beberapa hari berikutnya bang Buyung Nahar ditetapkan jadi tersangka," ungkap Pidi membeberkan sedikit kronologi kasus yang menyangkut pada Buyung Nahar.

Pidi mengaku, masyarakat Suku Sakai akan kembali menuntut tanah ulayat nenek moyang mereka yang sudah di pancang PT Chevron Pasifik Indonesia dan dibayarkan ganti ruginya kepada oknum yang mengatas namakan pemilik tanah tersebut dengan angka yang sangat fantastis.

"Saya dan Buyung Nahar yang datang ke Polda Riau itu melapor, karena sudah dirugikan. Tapi kok malah kami pula yang bermasalah. Saya saat melapor ke polsek Mandau tidak ditanggapi, makanya lapor lagi ke Polda Riau. Bahkan usai melapor, saya sempat ditahan selama 2 minggu di Polsek Mandau. Ini kan aneh," lanjut Pidi menjelaskan.

"Jika penyelidikan Polda ini benar, silahkan datangkan semua orang sakai yang ikut menebang tebas tanah yang dibeli Buyung Nahar ini. Semua masih hidup, kami yang ambil upah tobang dengan Buyung Nahar. Kami sakai bisa beli honda dan hp pun, Buyung Nahar yang membantu. Yang jelas Buyung tak pernah peralat sakai untuk kepentingan pribadinya. Malah dia sangat membantu banyak masyarakat sakai," katanya lagi.

Ditempat yang sama, Buyung Nahar pun tidak menampik apa yang disampaikan Pidi kepada GoRiau.com. Bahkan dia menilai pelayanan Polda Riau dalam menyelesaikan kasus sangat bagus dan patut diacungkan jempol. Seperti kasus yang menyangkut pada dirinya.

"Bagus pelayanan Polda Riau pada kasus penetapan tersangka Buyung Nahar atas tuduhan pemalsuan surat tanah. Sampai tim penyidik secara khusus datang ke kota Duri dan difasilitasi menginap dihotel berbintang oleh oknum yang memiliki kepentingan pada kasus ini. Dengan fakta-fakta yang saya beberkan melalui pemberitaan ini, masyarakat yang cerdas akan bisa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun demikian, saya harus mengakui pihak Polda Riau lebih pintar dari masyarakat," pungkas Buyung yang tidak tinggal diam atas tuduhan yang ditujukan untuknya.

Bahkan Buyung Nahar siap diwawancara oleh televisi nasional dan membeberkan fakta-fakta keabsahan surat tanah yang dimilikinya berikut dengan membawa orang-orang sakai yang terlibat dalam penjualan tanah kepada dirinya.

"Kalau untuk kebenaran siapa yang takut. Akan saya ceritakan kronoligisnya laporan saya yang dirugikan kemudian malah menjadi tersangka. Akan saya bawa orang-orang sakai ini bicara yang sesungguhnya dimedia. Mulai dari mereka diberi uang hingga dipaksa tanda tangan surat tanpa dibacakan isi surat tersebut. Orang sakai yang tak mengerti tulis baca dipaksa tanda tangan surat," tutup Buyung Nahar kepada GoRiau.com.(ric)