
PEKANBARU - Inovasi teknologi pendidikan yang dirancang khusus untuk siswa tunarungu berhasil membawa tim Sobat Inklusi dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) melenggang ke ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Terobosan berupa ekosistem realitas tertambah atau Augmented Reality (AR) ini terbukti mengatrol kemampuan literasi kognitif pelajar di SLB Negeri Pembina Pekanbaru.
Ajang berskala nasional yang mempertemukan 420 tim dari 99 perguruan tinggi se-Indonesia tersebut berlangsung mulai (3-7/11/2026). Tim Unilak yang tampil pada bidang Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini mengangkat riset bertajuk Akselerasi Literasi Kognitif Siswa Tunarungu Melalui Ekosistem Realitas Tertambah dan Sistem Pemantauan Awan Terintegrasi.
Di bawah bimbingan akademisi Unilak, Heleni Filtri, SPsi MPsi, tim ini digawangi oleh lima mahasiswa lintas program studi. Menariknya, ketua tim adalah Habibi Ramadhan, seorang mahasiswa penyandang disabilitas tunarungu dari Prodi Sistem Informasi. Ia berkolaborasi bersama Vido Wiantama, Suspita Della, dan Annisa Kurnia Tari dari Pendidikan Khusus, serta Ivan Juliano Wowor dari Bisnis Digital.
Gagasan ini lahir dari keprihatinan melihat 12 siswa tunarungu di SLB Negeri Pembina Pekanbaru yang kesulitan merangkai hubungan antara benda, kosakata, dan kalimat. Berdasarkan asesmen awal, tingkat literasi membaca mereka sangat rendah dengan skor rata-rata hanya 39,1 persen. Padahal, sekolah telah memiliki fasilitas layar pintar interaktif (Interactive Flat Panel), namun pemanfaatannya belum optimal karena metode pengajaran yang masih konvensional.
"Kondisi inilah yang mendorong kami merancang solusi pembelajaran visual yang kuat dan interaktif, agar anak-anak ini kembali antusias belajar di kelas," jelas Ketua Tim Sobat Inklusi, Habibi Ramadhan.
Habibi merinci, ekosistem digital inklusif yang mereka bangun mencakup empat pilar utama. Pertama, pemanfaatan kartu literasi berbasis 3D dan AR. Kedua, penyediaan portal belajar daring melalui alsi.unilak.ac.id yang memuat materi, kuis interaktif, serta fitur pantauan guru. Ketiga, optimalisasi layar pintar untuk memproyeksikan objek 3D. Keempat, penggunaan miniatur denah rumah sebagai media kontekstual agar siswa mudah mengenali benda dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan metode ini dilakukan secara bertahap dalam empat fase, mulai dari literasi visual AR pada (20-21/7/2026), pembelajaran berbasis situs web pada (27/7/2026), interaksi layar pintar pada (3/8/2026), hingga permainan cerdas denah rumah pada (10/8/2026). Pengembangan materi kosakata ini juga mendapat dukungan penuh dari Balai Bahasa Provinsi Riau.
Dampak dari inovasi ini langsung terlihat pada hasil evaluasi akhir yang dilakukan pada (18/8/2026) lalu. Terjadi lonjakan pemahaman yang berujung pada nilai rata-rata siswa melesat menjadi 66,7 persen, atau mencatatkan kenaikan sebesar 27,6 persen dari kondisi awal.
"Anak-anak sangat antusias mengikuti semua kegiatan. Penggunaan kartu literasi dan miniatur denah ini membuat suasana belajar jadi jauh lebih seru dan materi mudah dicerna karena mereka menjadi lebih melek teknologi AR dan 3D," papar salah satu guru mitra di SLB Negeri Pembina.
Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, pihak sekolah akan terus memanfaatkan ekosistem digital tersebut. Unilak juga mengambil peran dalam pemeliharaan server dan situs web, beriringan dengan Balai Bahasa Provinsi Riau yang siap mendukung pengembangan materi maupun perluasan pemanfaatan media ke depannya.
Selain adu gagasan di bidang teknologi, delegasi Unilak turut membawa misi pelestarian budaya Melayu Riau di panggung nasional. Vido Wiantama dan Suspita Della tampil mengenakan pakaian adat Melayu Riau saat sesi perkenalan delegasi, sembari menggaungkan semangat kedaerahan. "Junjung adat, junjung budaya, takkan Melayu hilang di bumi," seru Vido. ***