
JAKARTA - Keberangkatan lima pekerja media menuju kawasan vulkanik Gunung Anak Krakatau berujung pada pengerahan besar-besaran armada SAR di perairan Selat Sunda. Speed boat Arupadatu I yang membawa nakhoda, Anak Buah Kapal (ABK), pemandu, serta lima jurnalis tersebut putus komunikasi usai meninggalkan Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang pada Senin (7/9/2026) jam 14.00 WIB.
Kelima jurnalis yang berada dalam manifes keberangkatan tersebut adalah Daus (Anadolu), Yudhistira (iNews), Donal Husni (fotografer lepas), Arie Basuki (merdeka.com), dan Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA).
Petunjuk Benda Mengapung di Perairan Carita
Hingga hari kelima pencarian pada Sabtu (12/9/2026), upaya maritim membuahkan sebuah petunjuk fisik. Awak kapal KN SAR Tetuka yang tengah menyisir sektor X sisi utara Pantai Carita pada malam hari mengangkat sejumlah barang yang terombang-ambing di permukaan laut.
"Barang yang berhasil kami evakuasi meliputi dua unit jaket pelampung berwarna oranye, satu helm proyek warna merah, dan satu jeriken BBM warna biru," tutur Kasubdit Patroli Airud Polda Banten, AKBP Lis Handaya.
Penemuan ini belum bisa dijadikan kesimpulan mutlak penyebab hilangnya rombongan. Pihak kepolisian masih harus melakukan uji silang data dengan manifes peralatan kapal.
"Barang-barang ini masih menunggu proses klarifikasi dari pemilik kapal untuk memastikan kebenaran apakah benda itu adalah perlengkapan asli Kapal Arupadatu I," paparnya.
Pemetaan Koordinat Lewat Menara Pemancar
Di sisi lain, proses identifikasi lokasi mendapat sokongan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang bersiaga di Posko SAR, Dermaga Pantai Marina, Pandeglang. Melalui Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, pola pergerakan ponsel korban direkonstruksi.
"Kami langsung melibatkan tiga operator seluler untuk melacak keberadaan BTS di lingkup perairan Selat Sunda yang mencakup wilayah Banten dan Lampung," ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.
Berdasarkan penarikan data tersebut, ditemukan sebuah titik koordinat yang menjadi lokasi transmisi terakhir sebelum semua perangkat mati.
"Deteksi sinyal terakhir terekam memancar di Pulau Sebesi. Data penting ini sudah kami serahkan sepenuhnya ke tangan Tim SAR," rincinya sembari mengimbau masyarakat untuk mendengarkan pembaruan informasi dari pintu resmi otoritas SAR.
Jarak Pandang Udara Terhambat
Tidak hanya armada laut, sebuah helikopter turut dikerahkan untuk memantau permukaan air dari ketinggian. Sayangnya, intervensi cuaca buruk menyulitkan pilot untuk melihat objek di bawahnya.
"Heli sudah diterbangkan, namun kendala kabut tebal membuat jarak pandang drop hingga hanya tersisa 1,5 kilometer. Walaupun begitu, rute yang diperkirakan dilewati kapal tetap kami sisir," sebutnya.
Keluarga Memantau Pulau Sertung
Sementara itu, kecemasan mendalam membuat keluarga Donal Husni dan Yudhistira terjun langsung mengikuti operasi di atas Kapal Polisi (KP) Sanjaya. Menggunakan peralatan teropong, mereka mengamati setiap jengkal perairan di sekitar Pulau Sertung.
Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, yang memimpin rute tersebut menyebutkan bahwa tim telah berlayar selama delapan jam tanpa henti.
"Pelayaran ini menempuh jarak 80 mil atau kurang lebih sejauh 140 kilometer. Namun, hasil pengamatan hari ini kami nyatakan masih nihil karena belum menemui tanda-tanda keberadaan korban," terangnya.
Melihat luasnya area yang harus dipindai, operasi hari kelima ini memperlebar jangkauan pemantauan dengan melibatkan belasan kapal.
"Operasi hari keempat kami mengerahkan 12 kapal di enam sektor. Hari ini, eskalasi pencarian ditingkatkan dengan mengerahkan 14 kapal untuk menyapu tujuh sektor perairan," pungkasnya.***