PEKANBARU, GORIAU.COM - Minimnya personil dan fasilitas pendukung Kepolisian Daerah (Polda) Riau dan jajaran, membuat sebagian kawasan pesisir Riau jadi sasaran empuk pelaku penyelundupan. Modusnya, dengan melewati akses pelabuhan rakyat (pelabuhan tikus,red) dimana tidak dilengkapi pemeriksaan keimigrasian.

Memperketatnya, Polda Riau telah melakukan koordinasi dengan Pangkalan TNI AL untuk penyebaran patroli wilayah perairan. Tak itu saja, pencegahan penyusupan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama Kepolisian Diraja Malaysia.

"Koordinasi ini dengan tukar informasi dan kegiatan Rendevous (patroli bersama perairan,red), dititik rawan," kata Kapolda Riau, Brigjen Pol Dolly Bambang Hermawan.

Ini menjadi solusi terbaik, sambung Jendral bintang satu itu, mengingat terbatasnya jumlah personil, serta cerdiknya pelaku penyelundupan, yang acap memanfaatkan akses pelabuhan rakyat, dimana tidak ada pemeriksaan keimigrasian.

"Untuk itu kita sosialisasi kepada masyarakat setempat, agar care jika ada Warga Negara Asing (WNA) yang masuk kewilayah kita," imbuhnya.

Sebelumnya, Polda Riau sudah berupaya maksimal menekan tingginya kasus penyelundupan. Dua kasus yang menonjol yang berhasil digagalkan antara lain tertangkapnya seorang kurir shabu asal negeri Jiran Malaysia berinisial NHK, yang membawa serbuk haram seberat 46,5 Kilogram dengan nilai jual Rp180 miliar.

Lalu baru-baru ini, Direktorat Polair Polda Riau juga berhasil mengamankan Kapal Motor Tenggayun Reksa II yang mengangkut muatan 15 ton bawang merah ilegal di Perairan Rupat Kabupaten Bengkalis, Kamis (9/4/2015) dini hari. Selain barang bukti bawang, polisi juga mengamankan nakhoda kapal berinisial BA (23) dan tiga anak buah kapal (ABK) yakni NA (47), RA(29) dan RS(22). (had)