
PEKANBARU - Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mego Pinandito, mengungkapkan visi besar pembangunan Gedung Pusat Khazanah Arsip Melayu di Pekanbaru yang ditargetkan menjadi pusat studi budaya Melayu terbesar di dunia. Usai menghadiri proses groundbreaking pada Senin (8/9/2025), Mego menyampaikan apresiasi atas hibah tanah seluas 8.125 meter persegi dari Pemerintah Provinsi Riau yang menjadi lokasi pembangunan pusat arsip budaya Melayu pertama di Indonesia.
Pembangunan akan dilakukan dalam dua tahap, dimulai dengan tahap pertama yang ditargetkan selesai akhir 2025 dengan anggaran Rp 6,6 miliar untuk gedung depot arsip seluas 600 meter persegi. Tahap kedua pada 2026 akan membangun dua gedung kembar berlantai empat dengan anggaran sekitar Rp 60 miliar, dilengkapi convention hall dan ruang pameran interaktif. "Ini merupakan komitmen pemerintah pusat dalam pelestarian khazanah budaya Melayu," ujar Mego.
"Kita akan memiliki pusat layanan kearsipan nasional khusus yang terkait dengan berbagai arsip budaya Melayu, termasuk naskah-naskah kerajaan Kesultanan Riau," tegas Mego dalam perbincangan dengan Goriau.
Visi besar ini didukung oleh kekayaan arsip budaya Melayu yang tersebar di berbagai wilayah Riau, mulai dari daratan seperti Kerajaan Siak, hingga kepulauan seperti Pulau Penyengat, Lingga, dan Singkep. Mego menekankan bahwa keunggulan pusat arsip ini terletak pada keaslian dokumen sejarah, bukan sekadar legenda. "Ini betul-betul catatan pemerintahan kesultanan, seperti naskah Gurindam 12 Raja Ali Haji yang asli," tambahnya.
ANRI sedang aktif mengumpulkan arsip-arsip kuno yang masih tersimpan di keluarga keturunan kesultanan dan masyarakat. Strategi kolaborasi dilakukan dengan melibatkan akademisi dari Universitas Riau, UIN Suska Riau, budayawan, dan sejarawan untuk mengkaji dan mengembangkan konten budaya. Pusat arsip ini akan terintegrasi dengan Perpustakaan Soeman HS yang telah menjadi pusat literasi khazanah Melayu.
"Kami membangun ekosistem lengkap dimana naskah-naskah kuno di pusat arsip dapat dikaji, lalu hasil kajiannya menjadi materi di perpustakaan, dan didiskusikan di convention hall," jelas Mego.
Mego menargetkan pusat arsip ini tidak hanya menjadi yang terbesar di ASEAN, tetapi di dunia. Untuk mencapai itu, selain pembangunan fisik, yang lebih penting adalah "mengisi" gedung dengan berbagai program studi, penelitian, dan kajian budaya. ANRI akan mengembangkan program residensi bagi peneliti internasional dan menyelenggarakan konferensi budaya Melayu bertaraf global.
"Total investasinya bukan hanya bangunan fisik. Yang lebih mahal adalah mengisinya dengan nilai-nilai budaya yang tidak ternilai harganya. Kemampuan kita menggali sejarah kesultanan inilah yang menjadi fokus utama," pungkas Mego.
Dengan demikian, Pusat Khazanah Arsip Melayu Riau diharapkan menjadi destinasi utama bagi akademisi, peneliti, dan pecinta budaya dari seluruh dunia yang ingin mempelajari kejayaan kesultanan Melayu secara komprehensif. ***