Pilihan Kematian

SALAH satu pilihan kematian pahit adalah kematian saat mengalami kecelakaan dalam berlalu lintas. Di zaman modern saat ini, perkembangan suatu daerah terutama di Indonesia begitu pesat, namun tidak lebih pesat dari pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus berproduksi.

Provinsi Riau misalnya. Daerah yang dikenal dengan penghasilan minyak bumi dan industri perkebunan serta kehutanannya ini begitu pesat berkembang. Jutaan kendaraan kini mulai memadati sejumlah ruas jalan yang ada di berbagai wilayah kabupaten/kota.

Seperti di Kota Pekanbaru. Sebagai ibu kota dari provinsi berpenghasilan pajak hingga triliunan rupiah ini, sangat wajar jika pertumbuhannya adalah yang paling pesat. Gedung-gedung menara ‘menjuntai’ tinggi dengan tingkat kepadatan manusia yang kian pesat.

Berbagai aktivitas yang menjadi pilihan kehidupan manusia di daerah inipun kian beragam. Mulai dari pengusaha kelas kakap, hingga para pelaku usaha kecil dikalangan rumah tangga, terus bergeliat untuk memperjuangan kehidupan.

Namun tidak jarang, kesibukan yang luar biasa membuat kebanyakan manusia itu lalai dalam menjaga keselamatannya. Mereka yang lalai, tidak lagi menyadari akan datangnya kematian, atau pilihan kehidupan yang berpotensi menjerumus pada sebuah penyesalan.

Salah satu pilihan kematian yang menjadi ‘momok’ bagi kehidupan manusia saat ini adalah peristiwa kecelakaan dalam berlalu lintas di jalan raya. Lihat saja mereka yang berkendara dengan cara yang ugal-ugalan, atau tanpa mementingkan peralatan penunjang keselamatan.

Perburuan waktu adalah alasan orang-orang itu. Mereka yang nekat melanggar rambu-rambu lalu lintas dan bertindak tanpa mementingan keselamatan diri sampai akhirnya pada pilihan kematian yang tragis. Para korbannya bisa dari berbagai kalangan. Pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja atau karyawan dan bahkan pengusaha.

Mereka yang menjadi korbannya, bahkan tidak menyadari kematian itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang pada akhirnya mendatangkan kesengsaraan bagi mereka yang ditinggalkan.

Mungkin ada ribuan ayah di negara ini yang harus mengalami trauma atas pilihan kematian isterinya. Atau mungkin ada puluhan ribu kaum ibu yang sepanjang hidupnya terus menangisi kepergian buah hatinya atas pilihan kematian pahit itu.

Namun yang pasti, kejamnya jalanan telah merenggut kehidupan normal bagi sebagian orang yang selamat dari pilihan kematian tragis tersebut.Untuk menyadarkan manusia-manusia yang tersisa, maka dengan sangat terpaksa penulis kemudian ‘menciptakan’ buku berjudul “Memilih Kematian” sebagai karya pertamanya.

Pada dasarnya, kematian adalah pilihan. Kecelakaan lalu lintas juga merupakan suatu pilihan pahit yang sepantasnya bisa diatasi secara bersama. (bersambung)